Archive for the ‘renungan’ Category

Apa Memang Begitu?

November 7, 2010

“Dulu, saya telah menyusun tesis ketika saya belum terdaftar sebagai mahasiswa S2. Dan saat belum lulus S2, saya sudah menyusun disertasi untuk program doktoral saya. Kenapa? Karena saya tahu, ujungnya S2 itu yang buat tesis, dan S3 itu bikin disertasi.”

Pernyataan itu keluar dari salah satu dosen saya, yang menyandang gelar guru besar di usia muda. Ia menyarankan mahasiswanya untuk tidak menunda sesuatu yang dapat dikerjakan saat ini, untuk selalu selangkah lebih maju dibanding yang lain. (more…)

Demi Anakk Yg Tercinta

November 23, 2008

demianak

Sabtu (22/11) dini hari. Wajahnya tak tampak. Hanya secuil dengkul melongok dari balik gerobak. Sepertinya ia tertidur pulas. Melepas lelah setelah seharian mengais yang tersisa, menjumput yang terbuang.
(more…)

Filsafat

Juli 29, 2008

”Kang, saya sedang di Jakarta. Bisa ketemu, nggak? Saya pengen ngelmu biar sukses kayak sampean,” seorang kawan mengirimkan pesan singkat seperti itu. Ia kawan saya saat kuliah dulu. Tapi lain kampus.
”Telek!” batin saya.

Jakarta memang selalu dianggap wah. Meski banyak sampah dan sumpah serapah, kota ini sudah kadung dianggap sebagai simbol kemakmuran, kesuksesan, dan segala limpah gelimang harta.

Tak peduli anda kere atau sekadar OB, kawan di kampung sana berprasangka bahwa anda sukses jika merantau ke Jakarta. Sudah berhasil menaklukkan Jakarta, katanya. Tak jelas, apa atau siapa yang telah ditaklukkan.
(more…)

Tombo Ati

April 14, 2008

Hati adalah organ vital bagi kita. Sama vitalnya dengan ‘alat vital’. Hati harus diurus dengan hati-hati, tidak hanya secara fisik, tapi psikis dan batiniah. Ilmu kedokteran menyebutkan, hati atau lever adalah organ paling besar dan paling berat dalam tubuh manusia. Beratnya mencapai 3 pound atau 1,3 kg. Organ yang berada di bagian atas sebelah kanan abdomen dan di bawah tulang rusuk.

Hati berfungsi menyaring racun dan melakukan proses detoksifikasi secara optimal. Jika hati anda sakit, racun yang masuk bakal tertumpuk dan tubuh rentan terkena penyakit serius, salah satunya sirosis. Karena itu, hati harus dijaga jangan sampai sakit.
Saat bayi masih di kandungan, hati berperan sebagai organ utama pembentuk darah. Saat tumbuh menjadi seorang manusia, fungsi pokok hati adalah menyaring dan mendetoksifikasi segala sesuatu yang dimakan, dihirup, dan diserap melalui kulit. Ia menjadi pembangkit tenaga kimia internal, mengubah zat gizi makanan menjadi otot, energi, hormon, faktor pembekuan darah, dan kekebalan tubuh. (more…)

Menulis = Beol

April 7, 2008

Seorang kawan, adik tingkat saya di kampus dulu, sempat berujar: menulis itu kayak beol, ngising. Dan buku adalah makanan. Semakin banyak kita makan, apalagi menunya cukup sesuai empat sehat lima sempurna, semakin mudah pula kita beol. Enak, nyaman, lega, tanpa sembelit.

Seperti itulah menulis. Jika kita rajin mengunyah buku bermutu, makin mudah kita menulis. Dengan banyak membaca, menulis jadi enak. Tidak tertahan seperti orang susah beol. Tidak pula mules seperti orang yang terjangkit mencret.
(more…)

Parpol = Toilet

April 3, 2008

Bayangkan saya adalah orang yang sama sekali tidak mengerti politik. Merem politik. Saya orang blo’on yang sehari-hari tidak pernah baca koran, nonton tv, dan mengikuti geger politik di media konvensional. Kalaupun baca koran, paling-paling nyomot ‘Lampu Merah, kalau tidak majalah gosip. Nyetel tipi hanya pas jadwal infotainment dan sinetron tangis-tangisan, hantu-hantu seksi, atau jedag-jedug acara musik MTV.

Saya yang bodoh ini, yang tidak peduli dengan jungkir-balik politisi tak jelas di parlemen dan parpol tiba-tiba bertanya: coba jelaskan apa pentingnya politik dan partai politik buat saya? Anda tidak perlu ndakik-ndakik (terlalu tinggi) ngomong soal demokrasi, karena saya tak paham apa itu demokrasi. Anda juga ndak usah menceramahi saya tentang trias politica..hewan apa pula itu. Cukup kasih pemahaman singkat kenapa saya perlu berpolitik atau setidak mafhum atas keberadaan parpol. Titik.
(more…)

Tiga Batang Rokok

Februari 17, 2008

Panta rei. Hidup itu mengalir seperti air. Semua selalu berubah serba tak pasti. Hanya perubahan itu yang pasti. begitu lagu lama yang diungkapkan filosof Yunani Heraklitos (edit: bukan Parmenides) berabad-abad kepungkur.

Roda hidup berputar menggelinjang mengikuti harmoni alam. Tiap detik (bahkan sepersekian detik), tiap menit, jam, hari, bulan, tahun, manusia menemui pengalaman berbeda, khas, unik. Karena berbeda itu, semestinya tidak ada kosakata jenuh, jengah, dan bosan, bahkan umpatan ‘ingin cepat mengakhiri hidup!’.
(more…)

Semiotika Jawa

Februari 8, 2008

Bahasa, verbal atau non-verbal, adalah cara untuk menyampaikan pesan, salah satu model untuk berkomunikasi. Terkadang tidak penting apakah bentuk bahasa yang kita ucapkan sudah sesuai dengan kaidah linguistif formal atau tidak, yang penting pesannya tersampaikan.

Kata orang-orang cerdas ahli semiotika, bahasa itu dipahami sebagai tanda. Tanda yang merepresentasikan komunitas tempat bahasa itu biasa terucap. Bahasa adalah produk budaya, sekaligus budaya itu sendiri. Ia khas, sama khasnya dengan kultur-tradisi si pengguna tanda. Halah..kok mbulet ngono yo? (more…)

NU..Berlagaklah Bodoh!

Februari 6, 2008

Ada banyak cara untuk menjadi presiden RI
Salah satunya rajin istigosah bersama Kyai.

Itu salah-satu bait puisi yang dicipta Acep Zamzam Noor, seniman sekaligus budayawan NU. Saya ndak tahu judulnya. Bait puisi itu dia ucap beberapa waktu lalu ketika singgah di Gedung PBNU.

Bukan tanpa sebab, jika tiba-tiba Acep yang masih punya garis keturunan darah biru NU itu mencipta bait puisi tersebut. Ia resah melihat NU, tepatnya politisi NU dan Kyai yang terseret ke panggung politik praktis tanpa reserve. (more…)

Theerlaaaluuu….

Februari 4, 2008

oma.jpg

Musik adalah bahasa universal. Begitu kata para pendendang dan pencinta ngak-ngik-ngok, jreng-jreng, crek-kecrek, dan sebagainya lain. Anda sedih, senang, bahagia, sukacita, semua bisa terekspresi lewat musik.

Karena sifatnya yang universal itu, anda tidak perlu meremehkan penyuka musik tertentu.  Yang suka sek-gesek biola, silakan nikmati, ndak usah mencibir ketika ada seorang pengamen yang mencari sekeping rupiah dengan hanya bermodalkan tutup botol coca cola coke (baca dengan nada c-cowok). Yang seneng jeb-ajeb dan leng-geleng, juga jangan sinis ketika ada wong ndeso mendendang lagu dungdat.

Kadang saya menyanyi meski cukup dalam forum terbatas di kamar mandi. Alhamdulillah saya masih diberi karunia pita suara, kendati nadanya serak-serak kering-kerontang.

Saya ndak suka nyanyi, tetapi saya cukup senang mendengar bait-bait sebuah lagu.  Pun ketika Bang Haji Si Raja Dungdat Minggu (3/2) kemarin khusuk dengan gitar tuanya di hadapan ratusan ribu warga Nahdliyyin di arena Harlah ke-82 NU di Gelora Bung Karno, saya cukup menikmatinya. Sejenak saya abaikan caci-maki Bang Oma yang Theerlaaluu..itu ke Inul beberapa waktu lalu. Saya juga lupa sebentar soal kontroversi pengalaman poligami dia. Toh kenikmatan merasai sebuah lagu tidak ada hubungannya dengan poligami atau larangan ngebor. Anda suka, silakan nikmati. Kalau ndak, ya tidak ada salahnya untuk tidak menutup telinga.hahaha.

Sebagian dari anda mungkin muak dengan Rhoma dan Soneta-nya. Tapi apa peduli saya? Lah sampe sekarang dia masih laku kok. Di desa-desa itu, dia tetap kondang dan kasetnya masih dikoleksi. Kalau ada khitanan, kondangan, atau acara-acara massal lainnya di kampung, gitar tua Bang Haji tetap mempesona.

Ibu-ibu pengagum Rhoma sangat mungkin membenci poligami. Bapak-bapak pencinta Rhoma juga mungkin penikmat goyang ngebor Ibu Hajjah Inul Daratista.  Kecintaan mereka toh tetap tidak goyah terhadap lengkingan suara sang maestro!

Jangan didengar…
Jangan  didengar…
semua itu tidak benar…huh..