Archive for the ‘politik’ Category

Hamilton Juara, Selanjutnya Obama!

November 4, 2008

Apa hubungannya Lewis Hamilton dengan Barrack Obama? Tidak ada. Hamilton seorang pembalap, Obama politisi. Dua profesi yang jauh berbeda. Hanya satu kesamaan mereka: sama-sama keturunan blasteran dari ayah kulit hitam dan ibu kulit putih.

Hamilton pembalap, Obama Politisi. Jelas berbeda. Tapi saya merasakan ketertarikan serupa saat dua figur tersebut pertama kali muncul. Mereka sama-sama penuh talenta, menawarkan sesuatu yang berbeda, semangat baru, harapan baru, di dunianya masing-masing.

(more…)

Sesat Fikir

Oktober 27, 2008

Mungkin ini salah satu contoh ‘sesat fikir’. Sebuah kalimat yang sengaja dibuat agar terkesan logis, tapi sebenarnya menabrak prinsip-prinsip logika.

Semua manusia akan mati   (Premis mayor)
Socrates adalah manusia   (Premis minor)
Socrates akan mati    (Konklusi)

contoh silogisme sederhana seperti di atas sering saya dengar ketika belajar ilmu logika dasar. Kalimat ‘Saya peduli nasib wong cilik, karena itu saya pakai bbm non subsidi’ tentu sangat mudah dipatahkan oleh siapapun, bahkan bagi mereka yang sama sekali tak pernah mempelajari filsafat logika.

Wong cilik sudah terlanjur identik dengan PDIP. Dan karena itu, mudah ditebak, yang bikin spanduk itu pasti ada kaitannya dengan partai berlambang banteng gemuk itu. Saya menemukan spanduk itu di salah satu pom bensin di kawasan Tebet Jakarta, pom bensin yang kabarnya milik Taufik Kiemas-orang nomor 1,5 di PDIP. (1,5? karena ‘orang nomor 1’ = ketua umum = Megawati Soekarnoputri. Sedangkan orang nomor 2 = sekjen partai. Kalau suami ketua umum berarti dinamakan ‘orang nomor 1,5).

Saya peduli nasib wong cilik, karena itu saya pakai bbm non subsidi’ bisa disetarakan dengan menyatakan ‘saya peduli dengan demokrasi dan hak asasi manusia, karena itu saya mengoleksi 15 mobil ford mewah di garasi rumah’.  Kenapa begitu? Karena Ford punya Ford Foundation yang banyak memberi dana ke sejumlah NGO yang concern pada demokrasi dan HAM. (*)

Partai Krupuk

Mei 8, 2008

partai krupuk indonesia

Dia tiba-tiba mengagetkan saya. Menyalip dan dengan lincahnya zig-zag diantara seliweran mobil dan motor lain di sepanjang jalan Gatot Subroto Jakarta.

Saya tentu tidak heran dengan keahlian pengendara motor di kota ini dalam mencari celah, berbelok di sela kemacetan, bergerak cepat entah mengejar apa. Yang bikin saya gumun adalah ‘bendera kerupuk’ di jok belakang motor dia.
(more…)

Parpol = Toilet

April 3, 2008

Bayangkan saya adalah orang yang sama sekali tidak mengerti politik. Merem politik. Saya orang blo’on yang sehari-hari tidak pernah baca koran, nonton tv, dan mengikuti geger politik di media konvensional. Kalaupun baca koran, paling-paling nyomot ‘Lampu Merah, kalau tidak majalah gosip. Nyetel tipi hanya pas jadwal infotainment dan sinetron tangis-tangisan, hantu-hantu seksi, atau jedag-jedug acara musik MTV.

Saya yang bodoh ini, yang tidak peduli dengan jungkir-balik politisi tak jelas di parlemen dan parpol tiba-tiba bertanya: coba jelaskan apa pentingnya politik dan partai politik buat saya? Anda tidak perlu ndakik-ndakik (terlalu tinggi) ngomong soal demokrasi, karena saya tak paham apa itu demokrasi. Anda juga ndak usah menceramahi saya tentang trias politica..hewan apa pula itu. Cukup kasih pemahaman singkat kenapa saya perlu berpolitik atau setidak mafhum atas keberadaan parpol. Titik.
(more…)

WNI

April 3, 2008

Menjadi warga di sebuah negara yang sedang bermasalah seperti ini Indonesia memang susah. Kita kadang tak menyadari yang menjadi hak dan kewajiban sebagai WNI yang baik dan benar…

Katanya, WNI yang baik adalah mereka yang memiliki identitas jelas, punya tempat tinggal, taat pajak, dan kalau perlu punya NPWP. Kalau tidak, apa kata dunia??? Begitu kata iklan-iklan di TV.
(more…)

NU..Berlagaklah Bodoh!

Februari 6, 2008

Ada banyak cara untuk menjadi presiden RI
Salah satunya rajin istigosah bersama Kyai.

Itu salah-satu bait puisi yang dicipta Acep Zamzam Noor, seniman sekaligus budayawan NU. Saya ndak tahu judulnya. Bait puisi itu dia ucap beberapa waktu lalu ketika singgah di Gedung PBNU.

Bukan tanpa sebab, jika tiba-tiba Acep yang masih punya garis keturunan darah biru NU itu mencipta bait puisi tersebut. Ia resah melihat NU, tepatnya politisi NU dan Kyai yang terseret ke panggung politik praktis tanpa reserve. (more…)

Spanduk Adang-Dani Lebih Kreatif

Juli 27, 2007

Pilkada DKI telah memasuki tahap kritis. Dua kandidat yang bertarung, Adang Daradjatun-Dani Anwar dan Fauzi Bowo-Prijanto berlomba merebut simpati publik. Siapa yang menang? terserah lah. Yang penting Pilkada berjalan aman dan demokratis. Hanya saja, berbagai kejadian menarik eman untuk dilewati begitu saja. salah satunya isi materi kampanye dan spanduk tim kampanye dua kandidat ini. (more…)