Archive for the ‘media’ Category

Rigth Issue vs Wrong Issue

April 12, 2009

logo-bursa-efek-indonesiaMenjadi pekerja media di Indonesia itu gampang-gampang susah. Kita dituntut untuk tahu segala hal dan siap ditempatkan di desk manapun. Jangan heran, jika tiba-tiba anda dipindahkan ke pos liputan yang sama sekali tidak anda pahami.

Boleh jadi, anda yang sarjana ekonomi diperintahkan liputan di desk kriminal. Adalah hal biasa, lulusan Pendidikan Agama Islam UIN/IAIN/STAIN, jadi wartawan politik. Alumnus fakultas teknik, disuruh memantau pertandingan basket. Anda yang sama sekali tak paham hukum, sangat mungkin diperintah nongkrong di kejaksaan dan pengadilan. Dan apa boleh buat, anda harus siap! Tidak ada alasan: tidak bisa. Harus bisa—seperti judul bukunya Presiden SBY. Hahahaha. (more…)

Menulis = Beol

April 7, 2008

Seorang kawan, adik tingkat saya di kampus dulu, sempat berujar: menulis itu kayak beol, ngising. Dan buku adalah makanan. Semakin banyak kita makan, apalagi menunya cukup sesuai empat sehat lima sempurna, semakin mudah pula kita beol. Enak, nyaman, lega, tanpa sembelit.

Seperti itulah menulis. Jika kita rajin mengunyah buku bermutu, makin mudah kita menulis. Dengan banyak membaca, menulis jadi enak. Tidak tertahan seperti orang susah beol. Tidak pula mules seperti orang yang terjangkit mencret.
(more…)

Karni Ilyas, Gorys Mere, dan Persaingan Media

Desember 12, 2007

Kalau ada penggerebekan teroris, jangan lihat ANTV lagi ya. Pasti telat.
Lihat aja di Lativi. Pasti ada liputan ekslusif.

Pernyataan itu muncul begitu saja seorang kawan reporter ANTV. Kawan ini bukan sedang curhat karena kehilangan semangat mengejar liputan ekslusif. Ia juga tidak sedang memuji kualitas rekan reporter mereka di Lativi.

Bukan tanpa sebab, kenapa pernyataan itu keluar. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia jurnalistik dan pemerhati media, pasti mudah mencari jawabnya. Karni Ilyas. Pria bernama lengkap Sukarni Ilyas selalu membawa label eksklusif kemanapun ia pergi, di TV manapun dia bekerja. (more…)