“BEROBAT KE SINGAPORE!”

Jika anda atau keluarga anda terindikasi akan menjadi “pesakitan” cukup bilang “sakit” dan “berobat ke Singapore!”

“Berobat ke Singapore!” Ini jawaban yang paling mudah bagi siapapun untuk menghindar dari jeratan hukum. Ia seakan menjadi “mantra” untuk sejenak bisa terhindar segala urusan dengan aparat penegak hukum—kepolisian, jaksa, dan terutama KPK. Syukur-syukur bisa selamanya.

Sebenarnya “Berobat ke Singapore!” bukanlah sebuah cara baru untuk menghindari jeratan hukum. Sejak negara yang di peta terlihat kecil seupil itu menjadi daerah lancongan utama para kaum berduit di republik ini, sejak itulah para calon “pesakitan” hukum menjadikan alasan “sakit” dan selanjutnya “berobat ke Singapore!” sebagai cara yang mumpuni untuk tidak secepatnya di-mejahijau-kan. Namun, frase itu kembali menjadi trending topic ketika jagad politik dan hukum diguncang oleh perilaku Nazaruddin dan Nunun Nurbaeti.

Nazaruddin, bendahara umum Partai Demokrat (sekarang mantan), menjadi selibriti baru di jagad infotainment politik. Semua membicarakan sepak terjangnya. Di mana-mana, ia menjadi bahan rerumpian yang sedang hot-hotnya. Dari istana presiden, ruangan wakil rakyat yang terhormat, pojok sekretariat partai politik, taman kampus, sampai warung tegal, tak berhenti membincang si Nazaruddin. Bahkan mungkin mereka yang ada di kamar remang-remang dan ruang sauna di kota sana juga kerap berdiskusi lirih soal sepak terjang politisi muda yang kariernya cepat meroket—dan cepat pula terjunnya—itu.

Nunun pun setali tiga uang. Semua yang berbau Nunun enak dirumpiin, dari soal koleksi tas yang harganya sulit dinalar oleh penjual tas kresek di pojok persimpangan jalan, hingga soal kelihaiannya keliling negara ASEAN (padahal bukan duta besar keliling). Pokoknya semua hal yang berkaitan dengan istri Adang Daradjatun—anggota DPR RI dari PKS, mantan Wakapolri, mantan calon gubernur DKI Jakarta—mungkin menjadi topik paling hangat bagi ibu-ibu sosialita Jakarta, pekerja media, hingga anggota komisi tiga.

Dua sosok inilah yang membuat mantra “berobat ke Singapore!” kembali terkenal.

Jika dirunut lebih jauh, “berobat ke Singapore!” sebenarnya memiliki benang merah dengan kebiasaan yang kita (atau anda? 😀 ) pupuk sejak di bangku sekolah dasar. Bukankah alasan berobat, sedang sakit, tidak enak badan, lazim dilakukan sejak kanak dulu? Tidak jarang ada murid yang karena malas masuk sekolah menjadikan “sakit” sebagai tameng untuk lepas dari kontrol sang guru, untuk menghindari hukuman pengurangan nilai mata pelajaran (atau mata kuliah). Agar ada dasar yang kuat, alasan “sakit” itu dilampiri bukti kuat berupa “surat keterangan sakit” dari dokter.

Inilah potret bangsa yang “sakit” dan penuh “pesakitan” tapi tidak kehabisan akal untuk menjadikan alasan “sakit” sebagai tameng agar terhindar dari “pesakitan”…Rakyat kecil mengelus dada, “sakit hati”, dan hanya mampu menggerutu sampai “sakit gigi” (*)

Satu Tanggapan to ““BEROBAT KE SINGAPORE!””

  1. surat lamaran kerja Says:

    Inilah potret bangsa yang “sakit” dan penuh “pesakitan” tapi tidak kehabisan akal untuk menjadikan alasan “sakit” sebagai tameng agar terhindar dari “pesakitan”…Rakyat kecil mengelus dada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: