Edy Joenardi dan Bebalnya Pengelola Bola Indonesia

Membaca Kompas Minggu menguak banyak sisi tentang sulitnya membangun sepakbola nasional sebagai sebuah industri dan tontonan yang menghibur.  Ada banyak pihak yang ‘tidak rela’ dunia sepakbola kita menjadi professional karena takut kehilangan ladang pencahariannya.

Saya teringat sosok pengusaha bernama Edy Joenardi yang beberapa waktu lalu begitu berhasrat membeli Persija.  Ada obsesi untuk mentransformasi Persija dari yang sebelumnya menyusu pada ABPD DKI menjadi klub yang professional dan mandiri secara finansial.

Namun, niatnya kandas karena mendapat tentangan dari pihak-pihak tertentu yang merasa memiliki dan berjasa besar membangun Persija.  Edy akhirnya membeli klub yang lebih kecil, Persikad. Tapi dalam perjalanannya, ia kembali harus berhadapan dengan pengelola lama yang lagi-lagi merasa paling berjasa membangun Persikad dari nol.

Dulu, saat ramai-ramai Edy mau membeli Persija, banyak yang kaget. Karena hampir tidak ada yang mengenal sosok pengusaha bernama Edy Joenardi. Ia cukup misterius, rekam jejaknya sebagai pengusaha juga tidak banyak terekspose media. Siapa dia? Apa bisnisnya? Apa maunya? Kok ujug-ujug mau membeli klub sepakbola?

Seorang kawan bercerita, ia adalah salah seorang yang menjadi donatur kampanye sebuah partai besar dan salah satu calon presiden (bukan SBY-Boediono). Angkanya pun cukup besar. Dan sama seperti reaksi orang bola, Pak Capres juga sempat terkaget-kaget,”Siapa dia? Coba cek apa maunya?” Agak aneh, karena Edy juga tidak memperlihatkan ‘udang di balik batu’ ketika memberi sumbangan kampanye. Ia juga bukan (belum) tipe pengusaha yang suka meminta proyek dari pemerintah. ”Pokoknya nyumbang saja. Tidak jelas apa mau. Dia juga tidak pernah meminta konsesi apapun,” kata kawan saya.

Sebelum ramai dikutip wartawan bola, Edy Joenardi tidak banyak dikenal. Saat di-google, profile Edy hanya muncul di Majalah Swa sebagai pemain besar di lantai bursa yang berhasil menggelembungkan asetnya dari jual beli saham. ”Dia memang lihai bermain saham. Mengandalkan relasi bisnisnya di luar negeri, ia cepat mendapatkan informasi dalam menentukan pilihan berinvestasi dengan tepat,” tambah kawan saya yang banyak dekat dengan politisi dan pengusaha.

Kawan saya itu juga mengikuti sepak terjang Edy ketika menguakkan ketertarikannya untuk masuk dalam ‘industri’ sepakbola. Edy bahkan sudah menyiapkan deal dengan sebuah perusahaan olahraga untuk menjadi sponsorship jika jadi membeli klub sepakbola. ”Tinggal teken, Persija sudah bisa mendapatkan sponsor dengan angka cukup besar. Lumayan untuk biaya setengah kompetisi,” cerita dia.

Edy adalah contoh dari sedikit orang yang ingin masuk dalam ‘industri’ sepakbola nasional dan mengubahnya menjadi industri. Industri yang tidak sekadar ‘industri’. Industri yang tidak lagi merengek meminta anggaran dari pemerintah daerah. Industri yang tidak hanya beralih bentuk secara formal menjadi perseroan terbatas seperti Persija dan banyak klub lain, tapi prakteknya masih saja disuplay uang rakyat.

Edy adalah contoh dari sedikit pengusaha membentur tembok tebal bernama kebebalan pengolala sepakbola Indonesia yang enggan berubah. Padahal ada potensi, meski sedikit, sepakbola kita bisa menjadi industry professional dan layak tonton.Sekalipun banyak catatan buruk tentang sepakbola kita: kerusuhan suporter, adu tinju antar pemain, wasit,dll. Tapi sebagai sebuah tontonan rakyat, sepakbola Indonesia tetap menghibur. Banyak klub memiliki supporter loyal. Bahkan orang-orang yang mencibir mutu sepakbola kita, masih juga melirik siaran langsung di televisi (meski kadang dengan sembunyi-sembunyi).

9 Tanggapan to “Edy Joenardi dan Bebalnya Pengelola Bola Indonesia”

  1. bangsari Says:

    hidup nurdin!

  2. hedi Says:

    aku dah nulis dari dulu, pemerintah ga bisa masuk ke federasi sepakbola tapi bisa melarang aparat negara (dari menteri sampai lurah) ikutan ngurus olahraga (praktis). sekarang ini bola cuma ajang korupsi via APBD dan satu-satunya yg ga pernah terdeteksi LSM anti korupsi manapun.

  3. nothing Says:

    bal sepak endonesia cen wagu wong wong e

    sam yus, edi kon nuku Metro FC ae nang malang, ben saingan ama arema

  4. Wempi Says:

    Betul sekali birokrasi persepakbolaan masih menyulitkan investor… Belum lagi arogansi pemilik lama yg notabene hanya mengandalkan apbd… Ttg edy joenardi, dia bukan siapa2… Ada org dibalik dia yg memiliki dana besar, dia hanya boneka aja… Dan cilakanya dia ngmg sana-sini punya duit 12T… Padahal ga ada itu… Makanya persikad kisruh, duit darimana dia buat beli klub?

  5. bren Says:

    walah…ternya edi itu bohong belaka…bulssshiiitttt…..kirain seperti raja dubai Al Maktoum….walah cuma pembohong belaka……..jangan sampai ada Edy-edi lain di sepak bola Indonesia…
    katanya tanpa pamrih…eh malah nipu secara terbuka…..anjritttttt…kasihan pemain Persikad

  6. Bowie Says:

    Edy Joenardi = manusia TISANI (Tipu Sana Sini).. Bukti jelas ada koq. Cara kerjanya hit & run.. Cari proyek besar.. Dapat ACC.. Nego ke pengusaha.. Dapat duit segar.. Lalu poofff… Hilang!!!

  7. Mala Poluan Says:

    Setelah saya baca ttg Edy Joenardi…sekarang saya jadi tahu dia itu siapa..karena sekarang saya lagi bermasalah dengan dia. Bapak2x tolong kalo ada informasi mengenai orang ini..saya minta no telp./Hp nanti saya akan hubungi. Tks.

  8. ayu Says:

    “Ayah” Edy joenardi

    Jangan sampai anda didoakan oleh anak yatim, dengan doa sumpah serapah yg akan berakibat fatal dgn anak perempuan anda, mela dan kiran.

    Kembalikan hak anak yatim

  9. pasaran bola hari ini Says:

    I such as beneficial information and facts anyone supply in your content articles. I will bookmark ones website and appearance yet again below on a regular basis. I am relatively certain We will be shared with lots of fresh goods the following! Enjoy for the!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: