Guru

Saya hidup di lingkungan guru. Ibuku guru. Semua pamanku dari keluarga ibu juga guru. Kakekku guru. Tapi aku tak mau jadi guru.

Saya ingat saat masih sekolah di Madrasah Ibtidaiyah, pamanku yang tertua mengajar sejarah Islam. Ia suka sekali bercerita tentang kisah para nabi. Gayanya lugas, mudah dicerna, dan banyak diselingi humor segar. Setiap kali dia mengajar saya pasti bersemangat, dan teman sekelasku sepertinya terlihat bersemangat juga. Kami semua menunggu kisah-kisah baru.

Pamanku yang kedua tak pernah mengajar langsung. Ia hanya sesekali mengisi pelajaran ketika guru utama absen. Terakhir, setelah saya lulus, ia sempat menjadi kepala madrasah.

Pamanku yang ketiga mengajar IPS (ilmu pengetahuan sosial). Ia semacam ensiklopedia sosial berjalan. Wajahnya serius. Tak banyak humor. Tapi di luar kelas ia kadang melontarkan humor, humor ala madura.

Ibuku? Ibu pernah satu-dua kali mengajar langsung di kelas. Waktu itu saya sudah kelas enam. Seingat saya, beliau mengajar sebagai guru magang. Semacam tugas akhir sekolah PGA (Pendidikan Guru Agama). Sampai sekarang ibu masih mengajar di madrasah yang sama.

Kakekku—semoga Allah menerima amal ibadahnya—adalah orang yang pertama kali memperkenalkan huruf hijaiyah. Bersama teman-teman sekampung, saya belajar a-ba-ta-sa-ja-ha dari beliau di musholla depan rumah. Di Madrasah, kakekku tak mengajar. Beliau adalah salah satu pendiri madrasah itu, dan menjadi ketua pengurus yayasan.

Ayahku sempat mengajar di sekolah formal, tapi di lain desa. Kini tidak lagi. Hanya mengajar mengaji di musholla depan rumah yang dia bangun pelan-pelan.

Saya hidup di lingkungan guru. Tapi saya tak mau jadi guru. Saat baru lulus SMA dan mau kuliah, kakek, nenek, ibu, dan tiga paman mengerubungiku. Mereka bertanya mau kuliah di mana dan jurusan apa. Tapi dalam satu titik,mereka kompak,”kami berharap kamu mau jadi guru.”

”Matematika atau fisika. Tapi aku tak mau jadi guru,” jawabku saat itu. Mereka kaget. Tapi tak mau memaksa. (Tak perlu dibahas kalau saya kemudian mengambil jurusan elektronika dan kini bekerja sebagai juru ketik—jauh dari otak-atik solder dan mikroprosesor).

Kenapa tak mau jadi guru? Entah. Seingatku, keengganan untuk menjadi guru itu muncul ketika SMP. Waktu itu, salah seorang guru, di sela-sela mengajar, melontarkan pernyataan mengagetkan. ”Kamu tidak perlu menjadi guru,” kata dia tanpa melontarkan alasan. Saya hanya menerka dari ekspresinya. Dan sejak saat itu, obsesi untuk menjadi guru hilang.

Seminggu lalu, tengah malam, saya menelepon ibu. Beliau bercerita baru saja gagal menjadi PNS karena faktor umur yang melewati batas maksimal. ”Saya gagal.” Ada nada kepasrahan, dan saya terdiam.

Bertahun-tahun ibu mengabdi menjadi guru. Ia berjuang untuk konsisten di jalur itu, meski dengan gaji yang bagi orang Jakarta mungkin hanya cukup untuk hidup dua hari. Sesekali, tapi tak pasti, ia mendapat bantuan dari pemerintah. Jumlahnya setara dengan biaya sewa rumah petak sederhana di Jakarta, sebulan.

Sebelum ada vonis gagal, ibu sering bercerita sedang mengajukan permohonan untuk menjadi PNS. Harapan itu tak kunjung datang. Kesabaran dan kepasrahan kadang ada batasnya. Setahun lalu, beliau sempat melontarkan keinginan untuk tak lagi menjadi guru. ”Bagaimana kalau saya berhenti saja menjadi guru?” kata ibu. Dari nadanya terkesan bukan bertanya, tapi mencari penegasan.

”Jangan! Jangan! Jangan!” jawab saya setengah berteriak. Dan saya menangis. Dan saya tak bisa melanjutkan tulisan ini…

Terima kasih kepada zen yang mengingatkanku akan pentingnya guru dan ibu.
(*)

12 Tanggapan to “Guru”

  1. zen Says:

    engko muleh kantor aku bakal nelpon simbokku, cak!

    *yakinlah sumpah*

  2. adit-nya niez Says:

    Guru gajinya mungkin kecil, tapi pahalanya pasti gede… :mrgreen:

  3. Hedi Says:

    guru tetap profesi mulia, dia mengajar orang – apapun motif lainnya.

  4. nothing Says:

    sama seperti sampeyan mas yus…saya juga dulu bercita cita jadi guru..
    tapi kemudian berbelok karena banyak alasan..

    *negoro cen kudune lebih memperhatikan nasib para guru bantu dan honorer

  5. guspitik Says:

    aku jadi inget bu win, guru biologi SMA biyen…cakep..sering tak intip..waduh…dosa rekkkk….

  6. Moes Jum Says:

    waduuuh … mesakaken temen yo. Mending sampeyan nggawe sekolahan ae ben Ibu iso ngajar ndhuk kono tanpa terbebani pengen dadi PNS

  7. kw Says:

    wow..jadi terharu….
    aku jarang nelpon simboku. dia sing selalu nelpon hiks hiks

  8. Ndoro Seten Says:

    wah sampeyan bisa jadi mahaguru nih!

  9. KAKA Says:

    Guru, konon merupakan akronim dari (bahasa Jawa) “digugu lan ditiru”. Artinya, kurang-lebihnya, jadi panutan atau sikap dan perilakunya layak ditiru. Tapi, banyak juga guru yang tidak layak jadi panutan atau ditiru. Jadi guru berstatus PNS atau swasta tak memengaruhi orang lain untuk memanuti atau meniru. Maka, jadilah guru yang bisa jadi panutan dan layak ditiru sikap dan perilakunya. Syukur bisa menjadi guru bangsa. Setidaknya, jadi guru bagi keluarga.

  10. anakperi Says:

    guru, yen minggu turu…

  11. anis bon2 Says:

    q jg guru mas,,,,, n indah bgt mengenang jadi murid….

  12. Dede Says:

    Guru… Pahlawan tanpa tanda jasa.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: