tuhan si penjual tahu

Saya ingin sedikit berbagi tentang pengalaman bersinggungan dengan tuhan. tuhan. betul tuhan. dulu ketika masih kecil, di kampung, hampir setiap pagi—pagi yang cerah, udara bersahabat, dan kicauan burung—saya mendengar seruan tuhan.

”hu..tahu…tahu, yu?” tuhan berseru dari jalan setapak di depan rumah saya. Suara khas, keras, dan dibumbui dengan bunyi terompet yang biasa ditiup dengan alat pompa ban sepeda pancal.

”Ya..ya..tahu. Tunggu sebentar,” jawab nenek saya—kadang ibu—dari dapur yang berada di ruang paling belakang rumah. Kalau saya pas berada di halaman depan, biasanya saya langsung melesat ke belakang sambil berteriak,”tahu,mak? tahu,bu?”

eits! Tunggu dulu. Jangan tersinggung dan langsung menvonis saya kapir, ateis, kominis. Jangan pula terburu-buru mengeluarkan fatwa bahwa darah saya halal, leher layak dipenggal.

tuhan yang saya maksud tentu saja bukan TUHAN YANG MAHA ESA yang oleh sebagian orang ditulis empat angka dalam ejaan latin: papat je je i. Maksudnya 4JJI. tuhan yang satu ini memang penjual tahu. Menggunakan sepeda ontel tua, hampir setiap hari dia menjajakan dagangannya melewati jalan depan rumah saya yang masih belum beraspal. Saya tidak tahu apakah dia sekarang masih hidup atau tidak. Terakhir kali saya ketemu dia masih konsisten dengan pekerjaannya sebagai penjual tahu, tetapi tidak lagi dengan mengayuh ontel. Ia pakai sepeda motor honda suzuki lawas. Biasalah, kalau di kampung, semua merk motor disebut honda.

Saya kecil cukup akrab mengenal tuhan. saya biasa memanggil dia pak tohan. Orang Madura kadang tak biasa membedakan huruf ‘O’ dan ‘U’ ketika melafalkannya. Saya saja kadang dipanggil oleh teman sesama orang madura dengan ucapan HOSEN. Tapi sapaan akrab masa kecil saya adalah YUS. YUS AJA. YUSWAE.

Kenapa dia bernama tuhan? saya ndak tahu persis. Sebagian mengatakan nama lengkapnya adalah Satuhan. Artinya apa? Saya juga tak paham. Saya hanya bisa menerka, ia diberi nama itu mungkin untuk mengingatkan bahwa hanya ada satu TUHAN, TUHAN YANG MAHA SATU, TUHAN YANG TIDAK ADA DUANYA. Bukankan dengan memberi nama Satuhan ia bisa bersyahadat sepanjang hidup, sepanjang masa, dan setiap detik detak jantungnya? Bukankah dengan memberi nama Satuhan, orang yang menyapa dia bisa berucap sahadat: TIADA TUHAN SELAIN TUHAN ITU SENDIRI, TUHAN YANG MAHA SATU. (*)

12 Tanggapan to “tuhan si penjual tahu”

  1. arya Says:

    darahmu halal cak yus!
    *kabur*

  2. yudhi Says:

    Sepedane wes dadi wesi pirang kilo kui cak ?

  3. ipung Says:

    jenenge apik, aku yo pas cilik tau nduwe kanca jenenge njesus

  4. Aris Says:

    Nama yang bagus walau sepertinya tidak lazim

  5. guspitik Says:

    ono ga sing jenenge moloikat?

  6. suma Says:

    tonggoku jenenge mbah “kletong”,mbah”gudel”,mbah”cikrak”…
    emang wong jowo ki aneh-aneh jenengke anak…karepe dewe wae…

  7. Ibit Says:

    wow. sungguh pengalaman yang berharga. 🙂

  8. bajirut Says:

    oooooo…. tak kiro kono ndongeng opo kang ? rada mbingungi……
    wis ra po po sing penting aku melu komen…
    komen……. ya masuk…..

  9. adit-nya niez Says:

    Hu’uh…
    Tuhan itu cuma satu, Tuhan Yang Maha ESA…

    Btw, saya baru nyadar klo orang jawa selalu nyebut sepeda motor dengan Honda. Pantes disana setiap ada motor lewat dibilangnya, “Awas ada Honda,”

  10. escoret Says:

    wakakakka..yus wae..kekekek

    postingan lucu,tapi lumayan agamis…kekeke

  11. TELO GORENG Says:

    yang menyebut sepeda motor dengan istilah HONDA, memang orang JAWA, lebih khusus yang mengandung MADURA… hahaha…

  12. No Name Says:

    Ngiring gumujeng w lah…
    Hehehehehe….. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: