Hamilton Juara, Selanjutnya Obama!

Apa hubungannya Lewis Hamilton dengan Barrack Obama? Tidak ada. Hamilton seorang pembalap, Obama politisi. Dua profesi yang jauh berbeda. Hanya satu kesamaan mereka: sama-sama keturunan blasteran dari ayah kulit hitam dan ibu kulit putih.

Hamilton pembalap, Obama Politisi. Jelas berbeda. Tapi saya merasakan ketertarikan serupa saat dua figur tersebut pertama kali muncul. Mereka sama-sama penuh talenta, menawarkan sesuatu yang berbeda, semangat baru, harapan baru, di dunianya masing-masing.

Hamilton dan Obama hadir di tengah dunia yang monoton. Mereka kulit hitam pertama yang berani mendobrak tradisi. Dalam sejarah F1, tidak ada pembalap kulit hitam yang menjuarai ajang tersebut. Dalam sejarah politik Amerika, tidak ada politisi kulit hitam yang berani menantang arus mencalonkan diri sebagai orang nomor satu di negeri yang pernah mengalami masa kelam diskriminasi ras itu.

Pada musim pertamanya di F1, Hamilton hampir juara. Ia hanya kalah 1 poin dari sang juara Kimi Raikkonen. Dan dalam balapan terakhr penuh drama di Interlagos Brazil, Hamilton akhirnya berhasil membayar kegagalan tahun lalu. Hamilton akhirnya menorehkan sejarah sebagai juara termuda di ajang jet darat F1—mematahkan rekornya yang sebelumnya dipegang Fernando Alonso. Ia juga kampiun F1 pertama berkulit hitam.

Saya tak suka F1. Ajang Jet Darat itu menurut saya adalah olahraga menjemukan. Sekian orang berlomba adu cepat melewati jalan yang sama berulang kali dan juara didapat. Tak menarik. Tapi pendapat saya itu berubah ketika muncul seorang rookie tahun 2007 lalu. Dia Lewis Hamilton. Muncul dengan talenta brilian, mampu naik podium di balapan perdananya, dan—bukan bermaksud rasis—ia kulit hitam. Tapi ia bukan sembarang kulit hitam, wajahnya tak kalah menarik dibanding koleganya yang kulit putih.

Obama? Ia sosok yang membuat saya tiba-tiba tertarik mengamati proses politik di Amerika Serikat. Pemilihan presiden AS kali ini begitu berbeda karena ada sosok Obama di situ. Bukan sekadar karena pernah tinggal di Jakarta, Obama adalah politisi yang berpotensi mencetak sejarah sebagai pria kulit hitam pertama yang bisa menjadi orang nomor satu di Amerika Serikat.

Hamilton telah menorehkan sejarah. Selanjutnya giliran Obama mencatatkan nama dalam sejarah Amerika, negara yang mengagungkan demokrasi, pluralisme, dan anti diskriminasi. Mampukah? (*)

8 Tanggapan to “Hamilton Juara, Selanjutnya Obama!”

  1. bangsari Says:

    mampu….. *jawaban khas muktamirin NU*

  2. aprikot Says:

    ah lg pd demam obama yah?

  3. nothing Says:

    jatim ya opo cak…
    kopipaf apa karwo??

  4. Hedi Says:

    masalahe, opo tindakan kulit putih (pendukung fasisme dan rasisme) mari ngene? 😀

  5. oon Says:

    ya dah jelas masuk sejarah to om, la menang pemilu je…cuman bisa mbawa damai dibumi & ndak ketembak mati po ra?

  6. Moes Jum Says:

    saatnya warga minoritas di negri ini juga melakukan dobrakan yang sama … ayooo

  7. Kyai slamet Says:

    Selanjutnya Osama…

  8. escoret Says:

    maap,mnrtku bukan masalah campuran,blesteran atau cangkokan..!!!
    klo mereka kompetibel..!!!
    ya bisa jadi juwara…!!!

    mau contoh..???

    anu…hmm…anu…

    *sisiran mode on*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: