Beda Keyakinan

Perbedaan keyakinan tak jarang memicu konflik. Ketika seseorang memiliki fanatisme berlebihan terhadap agamanya tanpa ada upaya untuk untuk memahami dan memaklumi keyakinan orang lain, itu bisa menjadi akar seteru. Di daerah dan Negara tertentu, konflik karena berbeda paham keagamaan, dapat memunculkan benturan berdarah-darah.

Setiap agama sebenarnya mengajarkan toleransi. Tidak ada paksaan dalam beragama. Memilih keyakinan adalah hak mendasar bagi semua manusia. Anda tidak bisa memaksa saya untuk ikut dan tunduk pada keyakinan anda. Demikian juga sebaliknya.

Meyakini agama sendiri itu wajib. Tapi menghargai keyakinan orang lain juga tak kalah wajibnya. Bahkan dalam batas tertentu, kita juga patut memaklumi kelompok tertentu yang tidak percaya terhadap agama dan keberadaan Tuhan.

Berbeda itu sudah fitrah manusia. Tuhan (jika anda masih percaya) mencipta manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar bisa saling mengenal. Tidak hanya mengenal, tapi menyapa dan memaklumi perbedaan itu. Sudah dari sononya berbeda, tidak perlu diseragamkan. Penyeragaman yang dipaksakan justru membuat hidup jadi membosankan. Tidak ada warna-warni, tidak ada harmoni.

Kata ‘seragam’ dan ‘beragam’ sekilas mirip. Tetapi maknanya bertolak belakang. Yang seragam mungkin terlihat rapi. Tetapi kalau semuanya seragam, tentu tak elok. Bayangkan dalam satu taman hanya ada bunga kaktus. Pasti tak sedap dipandang. Semakin banyak warna, semakin nyaman dilihat.

Manusia juga dicipta berpasangan. Ada laki-laki, ada perempuan. Supaya apa? Ya itu tadi: saling mengenal. Mengenal saja? Tentu tidak. Mengenal lebih dalam, tumbuh benih cinta, dan…jadi dech (kalau jodoh). Kalau sejenis? Ya saya ndak tahu. Itu terserah anda.

Soal jodoh, katanya menjadi salah satu rahasia Tuhan. Tak ada yang tahu siapa pasangan hidup kita sesungguhnya. Tapi yang satu ini kadang terhambat karena ’beda keyakinan’. Ah..lagi-lagi beda keyakinan.

Seorang kawan, mengaku belum memiliki pasangan hidup. Padahal umurnya hampir kepala tiga dan beberapa kali mencoba hubungan serius dengan lawan jenis. ”Beda keyakinan,” jawabnya singkat ketika saya tanya kenapa tidak secepatnya menikah dengan kawan dekatnya yang cantik dan terlihat sholehah.

Saya tentu saja kaget. Sebab, kawan yang disuka kali ini berjilbab, cantik pula. ”Lho…bukankah dia berjilbab? Apa kamu pindah agama?”
”Bukan itu. Saya sama dia memang ’beda keyakinan’. Saya ’yakin’ kalau dia jodoh saya. Sedangkan dia tidak ’yakin’ kalau saya jodoh dia.” (*)

19 Tanggapan to “Beda Keyakinan”

  1. nothing Says:

    cinta memang buta 🙂

  2. guspitik Says:

    itu namanya cinta bertepuk sebelah kunam

  3. escoret Says:

    beda keyakinan ama beda kelamin beda lho….

  4. Iman Brotoseno Says:

    saya kok berpikir ini yang pakai jilbab justru beragama Kristen..
    Karena Jilbab itu budaya Arab,bisa saja gadis Kristen dari lebanon, syiria dan Palestina..( dimana banyak Arab Kristen )

  5. Wazeen Says:

    cool! ;), oiya saya baru saja ketemu om miming di luk guluk…

  6. Hedi Says:

    aku punya temen wanita yg suka pakai kerudung (bukan jilbab), padahal dia penganut katholik. waktu aku tanya alasannya begitu, jawabannya cuma satu: “biar rambutku ga rusak kena panas.” 😀

  7. Ndoro Seten Says:

    tapi memang jaman sekarang….
    banyak perempuan berjilbab tapi tidak menutup aurat,
    jadi jilbab hanya sekedar pembungkus badan tok wong tetep mlethet awake je….

  8. Aris Says:

    wah kalau masalahnya si cewek belum yakin bahwa si pria adalah jodohnya, adalah tugas si pria utk meyakinkannya … jangan menyerah sebelum terlihat tenda biru dan janur kuning melengkung

  9. Moes Jum Says:

    Lha sampeyan dhewe yakin gak pas mbiyen arep nikah karo mboke si evan?

  10. antown Says:

    ehm *batuk dikit…

    itu yang berjilban kasikan saya aja…

  11. Ahmad Salehudin Says:

    waduh….beda keyakinan memang merepotkan..
    apalagi masalah cinta..he……….

  12. Muda Bentara Says:

    hancurrr////

  13. -=«GoenRock®»=- Says:

    Ada beberapa temen saya yang pacaran walaupun beda keyakinan selama bertahun-tahun, tapi akhirnya semua pada bubar ditengah jalan karena masalah keyakinan. Kalau urusannya Agama emang susah…

  14. hanggadamai Says:

    begitulah cinta, deritanya tiada akhir 😆

  15. Edi Psw Says:

    Hahahaha…., saya pikir beda agama nih.

  16. kyai slamet Says:

    arep rabi meneh po?

  17. love Says:

    apa salah nikah beda agama ????????????????????????????????

  18. love Says:

    aku kan takut kehilangan dya ??????????????????????????????

  19. Muadib Al-Mahdi Says:

    my little brother ma pacarnya juga gitu, mo nikah beda agama bagi mereka bdua yang menganut pluralisme bukan masalah!
    lha justru pihak orang tua yang kolot-mlekothot yang membuat kedua mempelai jadi punya masalah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: