PeKaBe

Rasa-rasanya, banyak orang sudah jengah membincang konflik internal PKB (Partai Kebangkitan Bangsa). Sejak kelahirannya pada awal reformasi, partai berbasis warga Nahdliyyin itu hampir tidak pernah sepi dari konflik dan dualisme kepengurusan.

Saking seringnya berkonflik, kepanjangan PKB diplesetkan menjadi Partai Keseringan Berkonflik atau Partai Konflik Berkepanjangan. Uluk salam wallahul muwafiq ilaa aqwaamith thoriq yang biasa disebut oleh warga NU dan PKB di akhir surat dan pidato juga diplesetkan menjadi walaupun konflik, tetapi tetap menarik. Plesetan bernada satire seperti itu sudah jamak kita dengar di kalangan NU dan PKB.

Orang NU (dan Madura) paling pintar berkelit saat terjepit atau didera konflik. Plesetan walaupun konflik, tapi tetap menarik bisa pahami sebagai bagian dari upaya warga PKB menyikapi konflik agar tidak stress dan kehilangan pengharapan. Dan itu benar! Setidaknya menurut saya. Konflik PKB menjadikan partai ini terkenal, menjadi konsumsi media, dan pemberitaannya sering headline.

Saat pengundian nomor urut (bukan nomor togel) parpol peserta Pemilu 2009 di KPU beberapa waktu lalu, media tidak menyorot Golkar sebagai partai pemenang Pemilu 2004, PDIP yang oposan, ataupun partai pembela utama pemerintah—Partai Demokrat. PKB-lah yang di-blow up habis. Perebutan 2 bersaudara, Mbak Yenny dan Cak Imin menghiasi pemberitaan politik di TV dan menjadi foto A di media cetak.

Tidak hanya di TV dan Koran, di sekretariat parpol lain, rebutan 2 bersaudara itu jadi rasan-rasan pegawai kesekretariatan dan kadernya—meski kadang dengan nada sinis dan mengejek.

Berimbas negatifkah pemberitaan konflik itu? Bisa jadi: Iya. Tapi toh konsentrasi media mengupas tuntas konflik PKB itu tak jarang bikin iri parpol lain. Seorang kawan wartawan sebuah media lokal di Sumatera bercerita, parpol lain berteriak protes karena porsi untuk mereka tergerus. ”Oi…gantian. Jangan PKB doang diberitakan. Kita juga butuh publikasi,” begitu teriak mereka.

Konflik PKB juga memberi kerjaan tambahan bagi KPU. Lihat saja, KPU mungkin lebih sibuk ’ngurus’ PKB dibanding pekerjaan lainnya sebagai penyelenggara Pemilu. KPU Daerah bahkan berkali-kali mendatangi kantor PKB untuk sekadar konfirmasi—sesuatu yang hampir tidak dilakukan pada partai lain.

Bagaimana dengan suara PKB? Akan merosotkah? Banyak pengamat memprediksi suara PKB menurun drastis pada Pemilu 2009 akibat konflik dan terbentuknya parpol lain yang memiliki irisan konstituen hampir sama dengan PKB. Sebagian orang di internal PKB juga ada yang mengakui kemungkinan tergerusnya suara mereka. Tetapi tidak jarang yang masih tetap optimis, terutama konstituen PKB dari Madura.

Konstituen PKB dari Madura dan Tapal Kuda justru menganggap konflik di partainya bisa meningkatkan perolehan suara. Bukan karena tenar dipublikasi media.
”PKB sekarang ada dua ya?” tanya mereka.
”Iya betul,” jawab yang lain.
”Bagus itu,” imbuh si orang Madura.
”Kok malah bagus? Justru merugikan PKB. Elit terpecah, massa di bawah bingung dan mungkin berniat pindah partai.”
”Anda salah, Pak. Justru PKB akan bertambah besar dengan konflik itu. Bayangkan, dulu dengan 1 PKB saja kita dapat 52 kursi. Lah kalau ada 2 PKB, berarti kursinya bertambah dua kali lipat jadi 104 kursi.” (*)

12 Tanggapan to “PeKaBe”

  1. Hedi Says:

    berarti orang madura pinter2 yo, yus? 😛

  2. Wazeen Says:

    @Hedi, iyaaaaa mas 😛

  3. guspitik Says:

    waakakakaka…..

  4. bangsari Says:

    bagus, bagus… kalo begitu sekarang saya bisa tenang ndak ikut pemilu. 😀

  5. omith Says:

    *ngung….

  6. nothing Says:

    pkb partai katok bolong.. lha sarungan kabeh..
    saya juga suka pake sarung ..isis

  7. aAng Says:

    bubarin aja la partai kerok biang tu
    tukang maksa, sodara separtai dihujat, kehendak gak tercapai malah ngepung kpu, bosnya tukang nyleneh & menyesatkan
    mencemari citra indonesia yg udah tercemar aja

  8. KAKA Says:

    PKB: Partai Kok Begitu

  9. ario saja Says:

    wah emboh wis… 1 partai kok berantem.. mbok ya satunya mendirikan partai baru aja entah PKB – KU ati PKB-MU ato apa lah… jadinya ntar kaya anak kecil aja

  10. mymoen Says:

    itulah fenomena bangsa yang baru mengenal demokrasi…

  11. kyai slamet Says:

    hmmmm…. perhimpunan kaum bersarung
    😀

  12. Ndoro Seten Says:

    justru dengan berkonflik itu menjadi iklan gratis je kang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: