Perbankan Syariah

Wawancara dengan Ketua Panja RUU Perbankan Syariah Endin AJ Soefihara

Ini Menu Baru, Bukan Islamisasi Perbankan Nasional

Pertengahan Juni 2008, DPR RI bersama Pemerintah akhirnya mengesahkan UU Perbankan Syariah. Dengan disahkan UU tersebut, komunitas perbankan syariah kini lebih memiliki kepastian hukum dalam menjalankan aktivitasnya. Bagaimana dan seperti apa UU Perbankan Syariah itu? Berikut wawancara dengan Ketua Panja RUU Perbankan Syariah yang juga politisi PPP Endin AJ Soefihara.

DPR RI telah mengesahkan UU Perbankan Syariah. Kira-kira apa relevansinya UU tersebut terhadap kebutuhan ummat Islam di Indonesia?
Di masyarakat kita masih ada keraguan untuk menyimpan atau menanamkan uangnya dalam perbankan konvensional. Keraguan ini muncul karena dipengaruhi oleh filosofi kehidupan yang menganggap perbankan konvensional itu menggunakan mekanisme pemberian bunga. Sebagian masyarakat kita menganggap bunga itu sama dengan riba. Untuk mewadahi kegelisahan itu, DPR RI mengeluarkan UU Perbankan Syariah. Kami berharap UU Perbankan Syariah ini dapat mewadahi segmen dunia perbankan yang merasa ragu untuk menyimpan atau menginvestasikan uangnya di perbankan konvensional. Kami menawarkan menu baru dari menu konvensional yang telah ada.

Bukankah Bank Syariah sudah berjalan sebelumnya tanpa UU khusus yang mengatur?
Bank Syariah memang sudah berjalan, dan pangsa pasarnya mencapai 2-3 % dari total pangsa pasar perbankan nasional. Asetnya diperkirakan sekitar Rp 30 triliun dari total aset bank di Indonesia. Problemnya, bank syariah yang sekarang ada tidak menggunakan landasan yuridis khusus tentang bank syariah. Landasan yuridis sebelumnya adalah UU Perbankan yang sudah ada dan UU BI. Dengan munculnya UU Perbankan Syariah, bank syariah bisa secara khusus bersandar. Munculnya UU Bank Syariah melengkapi UU yang sudah ada sekaligus memastikan dasar hukum bank syariah.

Sebenarnya tujuan pendirian Bank Syariah itu apa?
Kita menduga potensi pasar masyarakat Indonesia yang memiliki keraguan untuk menyimpan atau menginvestasikan uangnya di bank konvensional masih banyak. Dengan munculnya UU Perbankan Syariah berarti ada menu baru. Kita berharap masyarakat yang tidak suka menyimpan uangnya di bank konvensional, tidak lagi menyimpan di bawah bantal, tapi di bank syariah.

Masyarakat belum banyak tahu tentang sistem dan produk Bank Syariah. Ada yang menganggap Bank Syariah sama saja dengan Bank Konvensional, hanya beda label saja. Bagaimana menurut Anda?
Bank Syariah itu adalah perbankan yang berprinsip sesuai hukum Islam. Misalnya di sana tidak ada transaksi pinjam-meminjam, tidak ada pemberian bunga, tetapi transaksi bagi hasil dengan berbagai istilah. Ada transaksi bagi hasil dalam bentuk mudharabah dan musyarakah. Ada pula akad wadiah, murabahah (transaksi jual beli dalam bentuk piutang), ijarah (transaksi sewa menyewa), dan berbagai istilah lainnya. Seluruh transaksi di bank syariah berdasarkan akad atau perjanjian.

Perbedaan paling prinsip antara Bank Syariah dengan Bank Konvensional sebenarnya apa?
Sistem pengelolaannya. Bank Syariah menggunakan prinsip akad bagi hasil, sementara bank konvensional prinsipnya adalah sistem bunga berdasarkan seberapa besar uang yang disimpan. Prinsip dasarnya tentu hukum Islam. Segala sesuatu yang terjadi di bank syariah harus sesuai dengan hukum Islam.

Apa justru semakin memperuncing dikotomi? Soal halal-haram Bank Konvensional misalnya?
Itu soal kepastian hukum bagi nasabah saja. Dengan munculnya UU Perbankan Syariah, bukan berarti muncul dikotomi bahwa bank konvensional itu haram, dan bank syariah itu halal. Semua itu berpulang pada keyakinan nasabah masing-masing. Yang penting merekaa memiliki kepastian keyakinan di mana dia lebih nyaman menginvestasikan uang. Paling tidak sekarang sudah ada pilihan. Tetapi munculnya bank syariah jangan dimaknai dalam konteks telah terjadi Islamisasi di dunia perbankan. Ini sebuah menu baru di antara menu-menu lain yang sudah ada di dunia perbankan kita. Pada operasionalnya, perbankan syariah tidak dikhususkan untuk orang Islam saja. Saya menghimbau kepada pengelola bank syariah, jika ada nasabah yang datang tidak perlu ditanya agamanya, tapi berapa besar uang yang mau ditanamkan. Jadi non-muslim pun bisa.

Anda yakin keberadaan UU Perbankan Syariah bisa meningkatkan prospek Bank Syariah? Indikatornya apa?
Kami berharap munculnya UU Perbankan Syariah menambah prospek baru. Paling tidak bagi tiga komponen pokok. Pertama, pemilik modal. Dia berarti memiliki peluang untuk mendirikan perbankan syariah. Kedua, pemilik uang yang ingin menyimpan atau menginvestasikan uangnya dalam perbankan syariah. Ketiga, terbuka peluang tenaga kerja untuk lulusan dari pendidikan khusus tentang perbankan syariah. Dalam perbankan syariah ada tiga jenis. Pertama Bank Umum Syariah, ini masih minim di Indonesia. Ada kesempatan bagi pemilik modal untuk mendirikan bank seperti ini. Kedua, Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Ketiga, Unit Usaha Syariah. Ini yang selama ini kita kenal sebagai bagian dari perbankan konvensional. Biasanya muncul keraguan karena Bank Syarih selama ini hanya unit usaha di bank konvensional. Ada yang bilang, ini beda muka depanya aja, muka depannya sama. Dengan adanya Bank Umum Syariah dan BPRS, selesai sudah keraguan itu. Saya kira ada banyak prospek yang bisa dikembangkan setelah UU Perbankan Syariah ini disahkan. UU ini mengamanatkan, Unit Usaha Syariah (UUS) yang saat ini ada, setelah 15 tahun sejak berlakunya UU wajib memisahkan diri dari bank umum konvensional dan menjadi Bank Umum Syariah (Pasal 68). Kami berharap pangsa pasar bank syariah yang saat ini cuma 3 %, dalam tempo setahun-dua tahun, paling tidak bisa menjadi 5-6% dari total perbankan nasional.

Dalam UU Perbankan Syariah disebutkan, struktur pembinaan dan pengawasan Perbankan Syariah tetap berada pada Bank Indonesia. Tetapi di situ ada MUI yang diberi otoritas untuk mengeluarkan fatwa tentang prinsip syariah. Apa tidak berbenturan?
Fatwa MUI tidak otomatis berlaku secara operasional. MUI tidak punya kaitan langsung dengan otoritas perbankan. Fatwa MUI itu diserahkan ke BI, dan di BI ada Komite Perbankan Syariah (Pasal 26) yang menggodok fatwa itu agar operasional. Dan operasionalisasi itu harus tertuang dalam Peraturan BI. Jadi MUI tidak bisa direct to perbankan.

BI dan MUI adalah dua insitusi yang berbeda jauh. Bagaimana menjembatani dua insitusi tersebut?
Komite perbankan syariah itu. Dia yang berwenang menggodok fatwa syariah yang dikeluarkan MUI agar bisa operasional. Komite perbankan syariah ini beranggotakan unsur-unsur dari BI, Departemen Agama, dan Masyarakat yang memiliki keahlian di bidang keuangan syariah. Jumlahnya 11 orang. Ini institusi yang berada di dalam BI.

Dalam banyak kasus, Bank Konvensional rentan menjadi tempat pencucian uang (money laundering). Bagaimana dengan Bank Syariah?
Bank Syariah pasti tidak boleh dijadikan alat pencucian uang. Tidak boleh ada transaksi yang sifatnya gambling, manipuasi, atau mengelabui. Karena itu melanggar prinsip-prinsip syariah. Siapa yang mengawasi? Pada setiap bank ada yang disebut Dewan Pengawas Syariah. Itu adalah organ bank yang diangkat oleh Rapat Umum Pemegang Saham atas rekomendasi MUI. Merekalah yang day to day mengawasi kegiatan bank agar sesuai dengan prinsip syariah (Pasal 32).

Jadi tidak ada istilah kredit macet dalam Bank Syariah? Atau semacam ‘bagi hasil macet’?
Hahaha. Itu bisa saja terjadi. Oleh karena itu bila terjadi despute, macet, atau ada keculasan, segala praktek yang justru melanggar prinsip syariah, atau ada ketidaksesuaian dengan akad, itu harus diselesaikan lewat peradilan yang menangani khusus tentang peradilan syariah, yaitu peradilan agama (Pasal 55).

Problemnya Peradilan Agama selama ini dianggap hanya ngurusi nikah-cerai. Bagaimana dengan kesiapan Peradilan agama menyelesaikan sengketa di perbankan syariah?
Inilah tantangan bagi Peradilan Agama agar mempersiapkan diri untuk tidak hanya mengurusi sengketa keagamaan. Sudah saatnya meraka mengurusi sengketa ekonomi syariah. Harus ada tambahan pengetahuan baru, bukan saja sebagai sarjana syariah, tetapi sarjana ekonomi syariah. Ketika sedang membahas UU ini, kami telah melakukan konfirmasi terhadap sejumlah aktivis peradilan agama, mereka menyatakan siap. Justru mereka menganggap telah mendapatkan tambahan keahlian.

Bagaimana jika ada transaksi antar bank syariah dengan bank konvensional?
Segala bentuk transaksi yang diduga ada campur aduk antara bank syariah dengan bank konvensional itu akan diatur oleh peraturan BI agar tidak memunculkan dualisme transaksi. Tapi sesungguhnya, soal transaksi antar bank itu sederhana saja kok. Yang harus memenuhi ketentuan syariah itu kan bukan mesinnya, tapi jenis transaksinya. (*)

Tulisan ini adalah hasil transkrip wawancara saya dengan Ketua Panja RUU Perbankan Syariah Endin AJ Soefihara. Sengaja saya upload ke blog ini sebagai referensi bagi siapa saja, terutama yang tertarik dengan segala hal yang berbau Syariah. Sebab, saya dengar, kalau gak salah Balibul dan Pitik, mau buat Bank Sperma Syariah. Siapa tahu mereka berdua serius mengajukan RUU Khusus tentang Bank Sperma Syariah ke DPR RI.

7 Tanggapan to “Perbankan Syariah”

  1. bangsari Says:

    syariah? wong landasannya saja ndak syariah kok?

    gimana tuh?

  2. mr.bambang Says:

    Sayang sekali, label syariah menjadi semacam komoditas bagi perusahaan kapitalis untuk mengeruk keuntungan 😦

  3. yuswae Says:

    @bangsari & mr bambang: lah..ora usah serius bahas syariah mas..iki cuma biar jadi referensi bagi balibul yg katanya mau bikin bank sperma syariah.. 😀

  4. nothing Says:

    haha, sperma syariah… piye kuwi bagi hasilnya?
    aku yo nabung nang kono…sperma ku insya allah sehat

  5. antown Says:

    @yuswae: istilah anyar iki? sperma syariah? piye gambare jeh?

  6. tamasolusi Says:

    syariah? saya dukung tuch…

  7. Visit website Says:

    Do you mind if I quote a couple of your posts as
    long as I provide credit and sources back to your blog?
    My website is in the very same area of interest as yours and my users would certainly benefit from some of
    the information you present here. Please let me know if this alright
    with you. Regards!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: