Filsafat

”Kang, saya sedang di Jakarta. Bisa ketemu, nggak? Saya pengen ngelmu biar sukses kayak sampean,” seorang kawan mengirimkan pesan singkat seperti itu. Ia kawan saya saat kuliah dulu. Tapi lain kampus.
”Telek!” batin saya.

Jakarta memang selalu dianggap wah. Meski banyak sampah dan sumpah serapah, kota ini sudah kadung dianggap sebagai simbol kemakmuran, kesuksesan, dan segala limpah gelimang harta.

Tak peduli anda kere atau sekadar OB, kawan di kampung sana berprasangka bahwa anda sukses jika merantau ke Jakarta. Sudah berhasil menaklukkan Jakarta, katanya. Tak jelas, apa atau siapa yang telah ditaklukkan.

”Pokoknya saya pengen ketemu.”
”Sampean harus bertanggung jawab,” cecar dia.

Lah apa hubungan dengan tanggung jawab segala? Dikira aku bekas pacarmu apa?
”Sampean dulu bikin saya gendeng.” Wah..asal jangan jadi psikopat saja.

Apa mau dikata, kami lantas bertemu. Dia banyak bercerita, akar sebab kegendengan di masa kuliah dulu. Dan dia menuding saya sebagai salah seorang yang turut menjerumuskan ke area tak jelas dan bikin pusing—begitu istilah dia.

”Saya ingat dulu sampean nenteng sebuah buku ke tempat kosku. Dunia Sophie. Gara-gara itu saya ikut gendeng.”

Tentu saja saya agak kaget. Ingat kembali buku Dunia Sophie, sebuah novel filsafat karya Jostein Gaarder. Itu buku pertama bertemakan filsafat yang saya beli ketika tiba-tiba tertarik pada filsafat. Saya bahkan membeli dua kali, karena buku pertama tak kembali dibawa adik satu pondokan—masih SMP. Buku kedua pun raib entah kemana.

Dulu, kami, saya dan beberapa kawan memiliki ketertarikan aneh pada filsafat. Bagaimana tidak aneh? Saya misalnya, mahasiswa Teknik Elektronika, tidak suka pegang solder, tertarik untuk mengenal Filsafat. Ada pula kawan, jurusan kimia, karena tak punya cukup uang untuk beli buka, sukanya guntingin Koran Kompas rubrik Bentara.  Dia sempat nangis bombay ketika kliping bentara-nya raib dicuri maling. Pasti malingnya cerdas, dia tidak ngambil sepatu, atau duit di dompet, tapi nilep klipingan kertas lusuh.

Catat: mengenal, bukan mendalami. Sebab, kami—setidaknya saya—tidak berpretensi untuk menjadi filsuf.

Tentu, karena bukan mahasiswa Filsafat, pemahaman kami boleh dibilang dangkal. Meski kerap berdiskusi soal-soal filosofis. Ya sekadar tahu aja. Kadang, ada saja perilaku aneh, oleh sebab kedangkalan memahami apa itu filsafat, dan bagaimana sebenarnya berfikir filosofis itu. Ada rasa bangga ketika dalam sebuah diskusi, kami mengutip pernyataan filsuf tertentu. Bentuk kebanggaan yang mirip seperti anak kecil saat memamerkan mainan baru hadiah dari ayah. Naif memang.

Filsafat, konon katanya, adalah barang rumit. Ia sulit dipelajari. Kalau tidak kuat bisa bikin pusing tujuh keliling, bahkan gila gulang-guling. Mungkin itu benar, setidaknya pengakuan kawan saya seperti itu. Syukur, dia tidak gila beneran seperti orang gila di jalanan pakai baju compang-camping. Pakaiannya tetap resik, rambut dipotong rapi.

Lantas apa hubungannya filsafat dengan sukses hidup di Jakarta? Mboh kah. (*)

20 Tanggapan to “Filsafat”

  1. Johan Says:

    Agak susah juga ngomentarinya.
    Filsafat itu dunianya orang yg hobinya mikir atau merenung. Mikir hal2 yg jarang difikirkan orang lain.
    Terus, tentang hubungannya filsafat dgn kesuksesan. Sukses dalam bidang apa dulu? Kalau sukses berfilsafat, kayaknya memang ada hubungannya.

  2. ebeSS Says:

    ayas gak bingung . . . he3, lha situ ya gak bingung gitu . . malah sukses!
    bener wong ‘jowo’, langsung pada filosofinya filsafat itu sendiri . . .
    mereka menyebutnya ‘sangkan paraning dumadi’ . . .
    asal meng’indonesia’kannya bener . . ya nggak bingung . .
    kalau naif mengartikannya ‘asal mulanya’ . . tanpa konten . . eh . . kok . .
    lha itu yang namanya korupsi . . emfffff . . uang hasil sukses situ kan sama dengan uang yang diberikan ayin kepada jaksa urip, lha . . apanya yang sama? ya uangnya lha . . . . . .
    lho kan ini halal, itu haram . . . . . lha, haram apanya?
    ayin berfilosofi, itu uangnya sendiri, bukan hasil korupsi, bener kan?
    “masak ngasik orang uang kok nggak boleh, apa itu haram?”
    akhirnya kan tergantung ‘nurani’ yang berfilosofi . . .
    ‘ngasih uang orang kok Rp.6 milyar . . lha saya?’
    lha kalau itu dikasihkan saya . . . baru, halal namanya . .
    kalau nggak ketahuan KPK . . he3, ndak bingung to saya?
    cuman males saja, dikasih uang Rp.6 milyar? . . . . dari hongkong . . 😛

  3. kw Says:

    aku kok ga betah ya baca buku itu, dunia sofie…

  4. bangsari Says:

    berkali kali tak coba baca buku itu dari sekitar 10 tahun lalu, selalu kandas bahkan sebelum selesai bab 1. enakan moco koran ae cak…

  5. edy Says:

    saya baca buku itu berkali-kali
    soalnya emang jadi buku wajib kuliah pengantar filsafat dan mesti bikin resensinya :mrgreen:

  6. Ndoro Seten Says:

    lha mulakno le berani berbuat yo kudu berani tanggung jawab to yo!

  7. nana Says:

    kmaren2 ada yg jelasin filsafat gt sm saya, katanya klo ga kuat iman mendalami, bakalan jadi sinting.. udah banyak contohnya kok.
    hahahahaha

    pinjam bukunya dong,, mao liat!
    hihihi

  8. sapimoto Says:

    Saya malah sama sekali gak ngerti tentang filsafat itu yang seperti apa, tapi klo baca tulisan diatas bisa bikin puyeng dan gendeng, mendingan memang saya tidak kenal…. 🙂

  9. guspitik Says:

    kowe metengi konco kuliahmu yo ko dikon tanggung jawab?mangkane to manuk ki diopeni sing apik..

  10. mikow Says:

    kang, kapan melu nang bunderan lagi? sudah sukses kok jadi jarang mampir, sampeyan harus tanggungjawab, digoleki mbok wedang

  11. -=«GoenRock®»=- Says:

    Filsafat iku opone fil koplo? Heheehe… :piss: @Mikow: Sepakat! ditunggu di Bunderan :mrgreen:

  12. iman Brotoseno Says:

    ngelirik Zen aja deh..kalau urusan ini

  13. Kesambet Says:

    Lho…lha kalo sampean bingung apalagi saya….betul kata mas Iman, itu urusan Zen….hehehe

  14. em Says:

    lhah hubungane gak bisa buka ama klipingan apa? eh iyah, emang dunia sopi yang nulis Zen, kok malah di serahin ke Zen. kalo urusan filsafat sih saya mending nyontek ama mbok wedang ajah, mantab surantab 😀

  15. duan Says:

    fil-safat nanti aja deh…!! kalo jakarta mau gw masih seri nih lom ada yang dan yg menang!! heheheh

  16. Adis Says:

    Jurusan pil syahwat filsafat….gampang masuk tapi susah keluarnya..katanya…hihi..piss

  17. syukriy Says:

    aku udah beli buku itu lebih dari 5 tahun lalu…tapi sampai sekarang belum baca. cuma lihat dafrs isi, doang. itu aja udah mulai pusing…:(

  18. andi Says:

    wkwkwkkw, ngakak juga baca komentar2 mengenai filsat, emang njlimet ntu filsafat, tapi kalau udah tau, walaupun sedikit, sangata bergna dalam memahami makna dari kata2 orang yg lg berbicara, bahkan ketika kita pahami, kita bisa tau pertentangan kata2 dalam sebuah kalimat sehingga bisa ketahuan orang yg asal ngomong dan orang yg bener2 ngerti omongannya.

  19. seorang zen Says:

    indah nya filsafat.

  20. rabyaedra Says:

    Saya akan mencoba untuk menjadi yg terbaik di jurusan ini amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: