Anal Isis

”Anda terlalu melebih-lebihkan.” Pernyataan itu sering keluar dari mulut politisi, tokoh masyarakat, ataupun pejabat publik yang merasa tersudut karena berita yang dirilis media. Tudingan terlalu bombastis, menampilkan informasi bias, dan tidak berimbang, banyak ditujukan pada media ketika berita yang terpublikasi dianggap tidak sesuai dengan fakta.

Benarkah media melebih-lebihkan informasi? Mungkin iya. Setidaknya versi sejumlah pakar analisis wacana media massa. Media itu cenderung menipu, bias, dan sarat kepentingan, karena ia tidak hadir dalam ruang vakum. Media massa adalah ruang berbagai ideologi direpresentasikan (Antonio Gramsci). Pernyataan media terlalu melebih-lebihkan’ mungkin bias, sama biasnya dengan konstruksi wacana di media massa. Tapi setidaknya itu lebih sopan daripada melontarkan ancaman,”gua gampar lu!”

Media itu ibarat lelaki yang suka poligami. Ia suka mendua. Ia bisa menjadi sarana penyebaran ideologi penguasa sekaligus alat legitimasi dan kontrol atas wacana publik. Dan karenanya, sering dipakai pejabat publik untuk mempengaruhi (mengelabui) masyarakat. Tetapi pada sisi lain media juga bisa menjadi alat resistensi publik terhadap kekuasaan, menjadi sarana untuk mendelegitimasi pemegang kuasa.

Karena ada bias itulah, pembaca media perlu hati-hati dalam mengunyah informasi. Pertengahan Juni lalu, saya diminta menjadi narasumber Pelatihan Kader Lanjut (PKL) PMII Cabang Kota Malang dengan materi Analisis Wacana Media Massa dalam perspektif gerakan. Saya ngowos, sampai berbusa, menyampaikan teori-teori analisis wacana. Saya katakan, media itu cenderung menipu. Karena itu sebagai pekerja media, saya juga penipu (tapi penipu yang baik hati). Lah kok diminta menjadi narasumber?

Tapi satu hal saya memahami, teori-teori analisa itu ternyata juga terlalu berlebihan dalam membaca wacana media. Sebagai pisau analisa, analisis wacana, semiotika, atau lainnya, juga terlalu melebih-lebihkan. Sama berlebihannya dengan konstruksi realitas di media massa.

Media memang sarat kepentingan. Pilihan berita, nara sumber, dan cara penyampaian bisa saja dipengaruhi sistem nilai dari pemilik modal industri media, tekanan dari luar, rutinitas keredaksian, bahkan sistem nilai yang diyakini individu wartawan.

Sebagai pekerja media, lelaku keseharian saya kadang biasa saja. Menjumput informasi, merekonstruksikannya dalam sebentuk tulisan, ada proses editing, dan….bla..terbitlah sudah. Lantas, kalau produk jurnalistik yang biasa-biasa saja itu dianalisis sedemikian detail menggunakan pisau analisis wacana, semiotika, atau framing, dan memunculkan kesimpulan bahwa si wartawan begini-begitu, media ini memihak si A, memojokkan si B, wartawan menulis itu karena dipengaruhi ideologi tertentu, atau mendapat tekanan dari penguasa…bla..bla..bla, apa itu tidak melebih-lebihkan? Mboh kah!

10 Tanggapan to “Anal Isis”

  1. sluman slumun slamet Says:

    berarti bener ituh 68% blogger adalah penipu
    😀

  2. kw Says:

    tentu saja… berlebih2an, sangat malah. bombastis! 🙂

  3. nothing Says:

    hmmm :), jangan pernah percaya 100 persen dengan media,
    tapi yo tetep tukuo koran rek… lha lek ga tuku sayah dan mas yuswae njut piye…

  4. Anang Says:

    OOT : anal isis = ngentut terus…

  5. antown Says:

    antownholicontest#3 sudah dibuka. Gratis…tis…tis, semuanya bisa ngikut. Please visit my blog.

  6. bangsari Says:

    kok ra disinggung “anal” sing sama dengan “silit” itu?

  7. Keluarga Nongkrong Says:

    saluuu … 🙂

  8. theloebizz Says:

    analsis yg tepat ituh yg ga merugikan/memojokkan 😉

  9. -=«GoenRock®»=- Says:

    Walah! Judul postingane yo melebih lebihkan iku hehehe… :mrgreen:

  10. darmayanti Says:

    pisau analisis wacana tidak bisa dikatakan melebih-lebihkan juga, selama analisis yang dilakukan memang dilandaskan pada representasi tekstual dan konteks sosial yang membangunnya, interpretasi yang terwujud sah-sah saja bukan? orang media memang bertugas menyuguhkan berita, perihal berita itu diinterpretasikan, dinilai, dan dikritisi macam-macam -baik oleh pembaca maupun peneliti-, justru di situlah proses berpikir kritis berlaku. dan itu jugalah yang seharusnya dimiliki oleh pembaca media yang cerdas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: