Archive for Juli, 2008

Filsafat

Juli 29, 2008

”Kang, saya sedang di Jakarta. Bisa ketemu, nggak? Saya pengen ngelmu biar sukses kayak sampean,” seorang kawan mengirimkan pesan singkat seperti itu. Ia kawan saya saat kuliah dulu. Tapi lain kampus.
”Telek!” batin saya.

Jakarta memang selalu dianggap wah. Meski banyak sampah dan sumpah serapah, kota ini sudah kadung dianggap sebagai simbol kemakmuran, kesuksesan, dan segala limpah gelimang harta.

Tak peduli anda kere atau sekadar OB, kawan di kampung sana berprasangka bahwa anda sukses jika merantau ke Jakarta. Sudah berhasil menaklukkan Jakarta, katanya. Tak jelas, apa atau siapa yang telah ditaklukkan.
(more…)

Anal Isis

Juli 4, 2008

”Anda terlalu melebih-lebihkan.” Pernyataan itu sering keluar dari mulut politisi, tokoh masyarakat, ataupun pejabat publik yang merasa tersudut karena berita yang dirilis media. Tudingan terlalu bombastis, menampilkan informasi bias, dan tidak berimbang, banyak ditujukan pada media ketika berita yang terpublikasi dianggap tidak sesuai dengan fakta.

Benarkah media melebih-lebihkan informasi? Mungkin iya. Setidaknya versi sejumlah pakar analisis wacana media massa. Media itu cenderung menipu, bias, dan sarat kepentingan, karena ia tidak hadir dalam ruang vakum. Media massa adalah ruang berbagai ideologi direpresentasikan (Antonio Gramsci). Pernyataan media terlalu melebih-lebihkan’ mungkin bias, sama biasnya dengan konstruksi wacana di media massa. Tapi setidaknya itu lebih sopan daripada melontarkan ancaman,”gua gampar lu!”
(more…)

Konsistensi Mboh

Juli 2, 2008

Susahnya menjaga konsistensi. Manusia biasa dinilai, dipahami, dimengerti, dicitrakan, dari apa yang dia sering lakukan. Pencitraan, stigmatisasi, muncul karena ada pengulangan-pengulangan.

Konsistensi itu penting, bahkan konsisten dalam inkonsistensi. Kita tahu, stigma konsisten dalam inkonsistensi itu banyak melekat pada diri Gus Dur. Gus Dur dianggap inkonsisten karena pemikirannya yang susah dimengerti, langkah politiknya yang meliuk-melompat seperti dewa mabuk.

Menulis juga butuh konsistensi. Mboh kah…