Tiga Batang Rokok

Panta rei. Hidup itu mengalir seperti air. Semua selalu berubah serba tak pasti. Hanya perubahan itu yang pasti. begitu lagu lama yang diungkapkan filosof Yunani Heraklitos (edit: bukan Parmenides) berabad-abad kepungkur.

Roda hidup berputar menggelinjang mengikuti harmoni alam. Tiap detik (bahkan sepersekian detik), tiap menit, jam, hari, bulan, tahun, manusia menemui pengalaman berbeda, khas, unik. Karena berbeda itu, semestinya tidak ada kosakata jenuh, jengah, dan bosan, bahkan umpatan ‘ingin cepat mengakhiri hidup!’.

Tapi itulah manusia. Saya, kamu, anda, dia, mereka, pernah merasa jenuh ketika berdiri dalam satu titik kemapanan. Kita juga protes ketika berada di area yang menawarkan ketidakpastian.

Saya kehabisan kata-kata. Bingung mau tulis apa. Merokok dulu.

Sejak kecil saya tidak pernah punya cita-cita bekerja di pabrik kata-kata. Obsesi saya ketika ditanya bapak-ibu: ingin jadi insinyur! Obsesi sederhana dan salah kaprah. Sebab, insinyur itu adalah titel ketika seseorang telah menyelesaikan studi strata satu-nya di bidang eksakta. Bukan pabrik, bukan pula pekerjaan.

Masa kecil saya lalui di kampung kecil yang hampir semua masyarakatnya menggunakan bahasa Madura. Sebagian besar memang keturunan Madura. Tapi ada pula orang asli Jawa, meski mereka juga berbahasa Madura. Sebagian kecil lagi, terutama di pusat desa, ada komunitas pedagang yang dari bentuk tubuh, kulit, dan lekukan matanya, jelas teridentifikasi sebagai orang China. Dan mereka juga lebih sering menggunakan bahasa Madura ketika ngobrol dengan kami, pelanggan tokonya. Kadang dengan bahasa Jawa. Hampir tidak pernah saya dengar mereka ngomong ca-ci-cu, xa-xi-xu, dengan logat sengau khas, meski dengan sesama.

Keluarga China di desa saya terlihat lebih mapan dibanding kami-kami ini yang berkulit sedikit legam. Kemapanan itu kadang membuat kami iri terhadap mereka. Tapi bukan iri dengki. Tidak pernah ada kerusuhan etnis di desa saya.

Saya kehabisan kata-kata lagi. Rokok kedua perlu disulut.

Saya tidak pernah mengenyam pendidikan TNK (Taman Nak-Kanak). Umur 6 tahun, saya langsung masuk Madrasah Ibtidaiyah (MI). Kakek saya termasuk pengurus yayasan di sekolah itu, entah ketuanya atau hanya anggota, saya lupa.

Sekolah di kampung, apalagi MI, seperti biasa, saya jalani dengan serba keterbatasan. Tidak ada perpustakaan, minim buku, dan tanpa tenaga pengajar lulusan sarjana. Sebagian guru saya adalah lulusan SPG, PGA, dan banyak yang saya tidak tahu mereka lulusan apa. Seingat saya, hanya satu guru yang PNS.

Dua paman saya, ikut mengajar di situ. Satu pegang sejarah, satunya lagi IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Saya paling suka diajar paman yang pegang sejarah. Dia banyak bercerita tentang sejarah nabi-nabi. Caranya bercerita renyah sekali dan kadang diselingi dengan banyolan.

Di kelas, saya bukan murid yang menonjol. Tetapi lebih dikenal sebagai anak bandel dan suka mengerjai murid cewek-cewek. Soal prestasi, saya tidak pernah juara kelas. Hanya berkutat di nomor dua dan tiga.

Semua saya lalui dengan biasa-biasa saja, sampai akhirnya ujian kelulusan dimulai. Dulu ada EBTANAS. Ada lima pelajaran yang diuji di EBTANAS. Meski tidak pernah juara 1, saya ingat hasil EBTANAS saya dulu itu paling tinggi di sekolah. 35 koma berapa gitu…saya lupa. Kalau di rata-rata., berarti nilai ujian saya kala itu tujuh per pelajaran.

Nilai EBTANAS 35 tertinggi? Hei..jangan tertawa dulu. Jangan sinis. Itu mungkin nilai maksimal yang kami, anak-anak kampung dengan fasilitas minim, bisa dapatkan. Nilai seperti itu sudah cukup luar biasa dibanding nilai 40, 45, bahkan 49, yang didapat murid sekolahan bonafide di kota yang dapat dengan mudah mencari lembaga pemberi kursus kilat layaknya PRIMAGAMA dan GANESHA, atau apapun namanya.

Banyak cerita, anak-anak kampung yang nilainya pas-pasan dan diterima di sekolah menengah agak bagus di kota bisa bersaing dengan siswa yang nilai EBTANAS SD-nya hampir mentok. Semua soal keterjangkauan terhadap fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan. Anda (atau anak Anda) bisa pintar, cerdas, jenius, mampu memahami 2 bahasa asing, bahkan 10, jika dijejali fasilitas berlebih dan punya modal tak terhingga. Tapi soal kreatifitas di tengah keterbatasan, bolehlah belajar pada orang-orang udik yang dianggap jauh dari peradaban.

Lha..kok ngelantur sampai ke EBTANAS segala ya? Merokok lagi.

20 Tanggapan to “Tiga Batang Rokok”

  1. Cabe Rawit Says:

    Minta rokokna…!!! :mrgreen:
    Asek gaya tuturna… Mungkin karena dibantu rokok… 😯

  2. hanggadamai Says:

    wah mas ngeerokoknya ampe tiga kali..
    klo saya ndak ngerokok klo lagi menulis kata2 😉
    hurray!!! saya pertamax

  3. hanggadamai Says:

    wah saya telat mas cabe yang pertamax

  4. iman brotoseno Says:

    ya ya saya suka itu falsafah PANTAREI….

    hehehe..wes diedit pak guru..

  5. kw Says:

    mengalir seperti air? kalau boleh milih aku pengen seperti air bah.

  6. aprikot Says:

    curcol ki??

  7. Luthfi Says:

    eee ….
    *baca tulisan orang curhat*

  8. yus aja Says:

    cabe rawit: minta? beli. 😀
    hanggadamai: halah..pertamax larang mas.
    kw: nyaopo dadi air bah,mas? arep ngenyotno sopo?
    aprikot: curcol kuwi opo sih?
    luthfi: iki bukan curhat, mbahas soal rokok. 😀

  9. adit-nya niez Says:

    Di kelas, saya bukan murid yang menonjol. Tetapi lebih dikenal sebagai anak bandel dan suka mengerjai murid cewek-cewek.
    </blockquote
    Hoo… Ternyata oom yus kyk gtu ya?? :mrgreen:

  10. adit-nya niez Says:

    Aaahhh… quotenya salah!

  11. yuswae Says:

    @adit: ndak perlu dibesar2kan. itu hanya bagian dari upaya menjaga normalitas saya sbg lelaki. 😀

  12. Adis™ Says:

    Ngeblog dapat menyebabkan impotensi, gangguan kehamilan dan janin…kalau sambil merokok..hehe..

  13. ridu Says:

    Saya tidak pernah mengenyam pendidikan TNK (Taman Nak-Kanak). Umur 6 tahun

    wakakka.. dasar orang madura..

    EBTANAS? makhluk apa lagi itu??

  14. ebeSS Says:

    lho jare okere agit cak . . . . lha kok mek utas . . he3

  15. Wazeen Says:

    Menanggapi rokok yang kedua: jadi kesimpulannya tadhe’ cenah celleng kan mas?

  16. gempur Says:

    Lha..kok ngelantur sampai ke EBTANAS segala ya? Merokok lagi.

    Ojok kakean ngrokok mas! opo yo iki sing diarani dampak negatif nge-blog hahahahahahaha….

  17. yuswae Says:

    @adis: mudah2an tidak jantungan karena benwit terbatas. 😀
    @ebes: oker sing utas itu sudah diprivatisasi, bes. Kanggo ketua dewan syuro di omah.
    @wazeen: bedeh mas..cenah tegelen.
    @gempur: hehehe. aku wes moco,mas.jo kuatir.

  18. bloggerbercerita Says:

    Mengalir seperti air? Tapi, kita bukan air toh?

  19. sluman slumun slamet Says:

    untung rokokna cuman 3, kalo sampek sak slop bisa ngelantur kamana-mana.
    :d

  20. Juned Says:

    Rokok, ya bagi-bagi cak?

    ojo sampe ngga ada loe ngga rame? Rokok + Kopi + ojo ngantuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: