Semiotika Jawa

Bahasa, verbal atau non-verbal, adalah cara untuk menyampaikan pesan, salah satu model untuk berkomunikasi. Terkadang tidak penting apakah bentuk bahasa yang kita ucapkan sudah sesuai dengan kaidah linguistif formal atau tidak, yang penting pesannya tersampaikan.

Kata orang-orang cerdas ahli semiotika, bahasa itu dipahami sebagai tanda. Tanda yang merepresentasikan komunitas tempat bahasa itu biasa terucap. Bahasa adalah produk budaya, sekaligus budaya itu sendiri. Ia khas, sama khasnya dengan kultur-tradisi si pengguna tanda. Halah..kok mbulet ngono yo?

kalimat umpatan misalnya. Kampret! Sudrun! Jancuk! wa ala aalihi wa ashabihi diterjemahkan dalam Bahasa Inggris sebagai Fuck!Mother Father Fucker!Shit! dan dalam Bahasa Indonesia ‘hanya’ menjadi Bajingan!Kurang Ajar!. Padahal pemaknaan Jancuk menjadi Fuck atau Bajingan tidak sepenuhnya benar dan merepresentrasikan maksut di pengguna pisuhan. Iki kok malah misuh-misuh?

Tidak..tidak..saya ndak paham betul soal linguistik, soal semiotika. Dan saya tidak mau membahas sesuatu yang tidak sepenuhnya saya dalami. Saya juga gak mau mengumbar pisuhan. Saya hanya ingin berbagi pengalaman ketika awal mula saya mempelajari Bahasa Jawa halus.

Komunikasi verbal saya sejak kecil menggunakan bahasa Madura. Bahasa yang dipakai sehari-hari di keluarga dan lingkungan tempat saya awal mengenal dunia. Dulu saya sama sekali tidak paham Bahasa Jawa. Kalaupun paham, susah untuk mengucapkannya.

Saya baru sedikit fasih Bahasa Jawa ketika dititipkan orang tua di sebuah pesantren kecil di Kota Lumajang. Kebetulan Kyai saya orang Jawa dan saya diajari bagaimana berbahasa yang baik dan benar serta konsekwen.hahaha.

Tiap hari saya belajar melafalkan kalimat-kalimat Jawa alus. Awalnya saya belajar ber-nggih boten, nggih boten. Menghapal kata delapan penjuru mata angin, ngilen, ngidul, ngaler, ngetan, dan sebagainya lain. Akhirnya saya terbiasa, meski tetap kagok dan logat boabo-nya belum hilang benar.

Suatu pagi, saya dipanggil Kyai untuk menghadap. Saya datang berdua ke Ndalem bersama seorang kawan, namanya Shomad, kebetulan Madura juga. Kami diminta untuk memanggilkan tukang yang akan membenahi pondokan kami.
”Le, tolong celu’no tukang,.”
”Nggih, Yai,” kami menjawab berbarengan.

Karena ini amanah, kami lantas pamitan dan bersemangan 45 mencari si tukang. Tapi tukang yang diminta segera membenahi pondokan ternyata belum nongol. Mungkin ia masih istirah di rumah atau apa, kami ndak tahu persis.

Kami lantas balik kanan menuju ndalem kyai. Di jalan kami berdebat tentang bagaimana cara menyampaikan ketidakhadiran tukang itu dalam Bahasa Jawa halus.

”Bagaimana ya cara menyampaikannya? Bahasa Jawa-nya belum datang itu durung teko. Lha kalau dihaluskan seperti apa? Dereng apa..ya?”

Durung = dereng.
Teko = ?
Kami bingung. Tapi kami tidak kekurangan akal. Kami lantas menganalogikan kata-kata Jawa yang selama ini sudah dipelajari. Ngulon (ke barat) itu kan Ngilen. Ngalor sama dengan ngaler (ke utara). Durung yo dereng. Berarti Teko itu…(aha akhirnya ketemu).

Dengan kepercayaan diri tinggi, kami berdua menghadap kyai.
”Piye le, tukange wes teko?”
”Dereng, Yai. Tukange dereng teke.”
”Teke? Maksute opo?”
”Dereng teko, Yai.”
”Ooo..Dereng dhugi toh maksutmu.”
***
Itu sejengkal cerita ketika saya belajar Bahasa Jawa pas mondok dan sekolah di Madrasah Tsanawiyah. Dan ketika ada pengajian di kampung, Kyai kami berulang kali menceritakannya ke khalayak.

12 Tanggapan to “Semiotika Jawa”

  1. aprikot Says:

    dereng dateng :

    dereng deteng,mbak. 😀

  2. pitik Says:

    *ngakak*
    do rema’ cong?

    de’ remma itu artinya dede’ campur lemah. 😀

  3. nothing Says:

    boabo…rung dugi kyai…
    hehe [lutju cak, sumpret]

    nggih mas, lutju. tapi saya sudah ndak suka ngelutju di jeding. 😀

  4. Hedi Says:

    sor mejo nok corone, jo gelo wis carane =))
    btw, lho ndok lumajang kan yo bosoe meduro…

    iyo mas..di lumajang pinggiran akeh medurone. lah nek di kuto yo akeh jowo.

  5. MaNongAn Says:

    Tokang’e jhek tedong iku cong. Anga ho !
    bhuwakakakakakak
    Sampean wes akeh amal’e, soal’e Kyai sampean dadi duwe bahan cerito.

    .::he509x™:.

    amien 1000x. semoga amal ibadah saya diterima dan dapat kapling sorga. 😀

  6. annots Says:

    pantesan ada yang mempopulerken bahasa jawa nya kata “tahu” (mengerti) menjadi “tehe” *lirik pemilik escoret.net*

    betul. tahu: tehe. ngidul: ngidel. ngetan: ngiten.

  7. Adis™ Says:

    Weleh…weleh…meng keye ngene we bese dede behen pestengen..hehehhe…

    nah..iki boso jowo sing bener. 😀

  8. antarpulau Says:

    “……….”Piye le, tukange wes teko?”
    ”Dereng, Yai. Tukange dereng teke.”
    ”Teke? Maksute opo?”
    ”Dereng teko, Yai.”……..”
    ___________________
    Kyai: *jitak kepala yuswae….*
    :mrgreen:

    saya: kolo wingi sampun dijitak,yai. dinten niki, prei mawon nggih? benjeng wae, jitake.kulo ikhlas 😀

  9. antarpulau Says:

    Kyai: “Lho..?? Kolo wingi itu kan lain kasusnya…..* :mrgreen:

  10. maruria Says:

    wakakakak..mangkane to kangmas….eje sek tehe.. 😀

  11. didiksuyuthi Says:

    di jawa ada ilmu bahasa yang disebut otak-atik gathuk (di utak-atik kena), seperti yang dicontohkan kang yus. di linguistik ilmunya namanya sintaksis (bicara struktur kata dan bahasa)

  12. www.kampungbahasapareuq.com/ Says:

    What’s up colleagues, its impressive piece of writing concerning teachingand entirely
    explained, keep it up all the time.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: