NU..Berlagaklah Bodoh!

Ada banyak cara untuk menjadi presiden RI
Salah satunya rajin istigosah bersama Kyai.

Itu salah-satu bait puisi yang dicipta Acep Zamzam Noor, seniman sekaligus budayawan NU. Saya ndak tahu judulnya. Bait puisi itu dia ucap beberapa waktu lalu ketika singgah di Gedung PBNU.

Bukan tanpa sebab, jika tiba-tiba Acep yang masih punya garis keturunan darah biru NU itu mencipta bait puisi tersebut. Ia resah melihat NU, tepatnya politisi NU dan Kyai yang terseret ke panggung politik praktis tanpa reserve.

Ada banyak kyai-kyai NU yang terjerumus dalam ke panggung politik praktis sampai lupa akan politik kebangsaan yang selalu menjadi pijakan para pendiri organisasi ini 82 tahun lalu. Acep mengaku tidak anti kyai berpolitik. Bagi dia, kyai mendirikan pondok pesantren itu adalah bagian dari model berpolitik warga NU.

”Saya tidak anti kyai berpolitik. Saya khawatir, NU sekarang akan kelihatan karakter, terutama yang berpolitik di DPR. Di gedung-gedung dewan, saya merasakan tidak ada bedanya antara politisi NU dengan Golkar, PDIP, PKS, itu semua sudah seragam.”

Padahal, politik ala NU itu khas. Tanpa pamrih dan mengedepankan nilai-nilai agama dan ke-Indonesia-an. Politik kyai yang tanpa reserve justru akan menjerumuskan NU menjadi sebuah organisasi yang tanpa rasa, tidak memiliki jimat sakti mandraguna. Dan pada akhirnya..ya seperti istigosah itu tadi.

Istigosah adalah jimat NU. Istigosah adalah sebentuk doa massal untuk keselamatan ummat. Jangan sampai nilai Istigosah disamakan dengan pertunjukan dangdut dan goyang ngebor Inul: sekadar sebagai alat untuk mengumpulkan massa. Jika disinggungkan dengan ranah politik yang ‘kadang kotor’, jangan salahkan kalau jimat itu tidak mandhi lagi, tidak sakti.

Kyai NU itu ya nyentrik, pakai sarung, dan cuek kayak seniman. Politisi NU sekarang canggih-canggih. Begitu kata Kang Acep. Tapi dia tidak terlalu suka. Putra alm. KH Ichlas Ruchiyat ini justru gaya lawas politik NU. ”NU itu seksi. Akan semakin seksi lagi jika mempertahankan karakternya yang seperti dulu: karakter yang seperti bodoh, tapi pinter. Kalau yang canggih-canggih seperti sekarang ini justru tidak menarik.”

Intinya NU itu jangan terlalu canggih. Berlagaklah bodoh!

11 Tanggapan to “NU..Berlagaklah Bodoh!”

  1. kw Says:

    tanpa pamrih……. lalu apa yang di cari 🙂

  2. khusen Says:

    @kw: kamsute pamrih yang pragmatis,mas.

  3. gempur Says:

    wakakakakak.. sebelumnya, saya ucapkan selamat harlah NU, maaf telat.. lantunan do’anya kyai NU kemarin yang di TVRI itu indah banget di hati.. jadi asyik masyuk pak! jadi kangen pulang ke desa…

  4. Wazeen Says:

    mungkin NU sekarang sedang bergeser dari Nahdlatul Ulama ke Nahdlatul Uang mas?

  5. mikow Says:

    jaman sekarang kalo nggak berlagak pinter nggak kebagian “kue” 🙂

  6. RAHMAN Says:

    NU seksi…
    NU di Elus-elus..

    NU tak akan lepas dari lirikan..

    NU di jadikan objek politik paling empuk..
    NU di jadikan komoditas Politik paling enak..
    NU empuk dan enak..?

    NU bukan organisasi politik
    NU jangan di politisir
    NU buta politik..?

    NU bukan milik satu golongan
    NU punya semuanya….
    NU bukan golongan ya…?

    NU pengikutnya banyak di kampung
    NU Punya orang kampung..?

    NU sekarang di suruh berlagak bodoh.

  7. goyangan Says:

    Nanchaster United?

  8. adit-nya niez Says:

    Hmm… Bodohnya yg kyk gmana ya oom?? :mrgreen:

  9. antarpulau Says:

    N.U »»»» Numpang Urip…. :mrgreen:

    *kabur sebelum dikeroyok jamaah NU…*

  10. masakgos Says:

    NU laris, apalagi sekarang jelang pilgub

  11. didiksuyuthi Says:

    tambahan buat mas acep

    banyak cara menjadi presiden
    salah satunya bisa juga dengan nglamar sama dek pendi..
    tul nggak gus pur?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: