Karni Ilyas, Gorys Mere, dan Persaingan Media

Kalau ada penggerebekan teroris, jangan lihat ANTV lagi ya. Pasti telat.
Lihat aja di Lativi. Pasti ada liputan ekslusif.

Pernyataan itu muncul begitu saja seorang kawan reporter ANTV. Kawan ini bukan sedang curhat karena kehilangan semangat mengejar liputan ekslusif. Ia juga tidak sedang memuji kualitas rekan reporter mereka di Lativi.

Bukan tanpa sebab, kenapa pernyataan itu keluar. Bagi mereka yang berkecimpung di dunia jurnalistik dan pemerhati media, pasti mudah mencari jawabnya. Karni Ilyas. Pria bernama lengkap Sukarni Ilyas selalu membawa label eksklusif kemanapun ia pergi, di TV manapun dia bekerja.Secara pribadi, saya tidak kenal Karni Ilyas. Jelas saja. Dia jurnalis senior, sementara saya hanya sekrup kecil di industri media. Tapi cukup mudah melihat rekam jejak dan prestasinya selama ini. Di SCTV, Liputan 6 dipolesnya sedemikian rupa sehingga menjadi yang terdepan dalam pemberitaan.

2005, Karni lantas pindah ke ANTV. Liputan 6 kemudian anjlok karena ditinggal sang maestro. ANTV lah yang kemudian banyak mendapatkan informasi A1 tentang kejadian-kejadian penting di negeri ini. Yang terlihat paling mencolok adalah ‘keberhasilan’ ANTV mendapatkan gambar ekslusif penggerebekan gembong teroris Dr Azahari di Jalan Flamboyan Batu Malang. TV lain kecolongan. Karena kalah start, kru SCTV terlihat malu-malu hadir di lapangan.

Soal Karni Ilyas sempat dibahas lengkap di milis mediacare. Konon, keberhasilan Karni mendapatkan info A1 dari sumber nomor wahid pula karena kedekatannya dengan Gorys Mere, Pimpinan Densus 88 Antiteror.

Kini Karni di Lativi. Saya tidak tahu persis bagaimana proses kepindahan Karni ke Lativi. Yang jelas, agak berbeda alurnya dengan cerita keluarnya dia dari SCTV ke ANTV. Kritikus dan pemerhati media juga tidak detil menyorot seperti ketika Karni pindah ke ANTV. Yang jelas, tiba-tiba saja, berita di Lativi diberi embel-embel eksklusif. Berita-berita kriminalitas, narkoba, dan sejumlah kejahatan yang ditangani aparat kepolisian, Lativi hampir selalu leading. Terakhir, Lativi berhasil mendapat hak (bukan lagi liputan) eksklusif untuk menayangkan rekonstruksi penangkapan Ahmad Albar 3 Desember 2007 di rumah sang rocker.

Ini karena Karni Ilyas. (lagi-lagi) Kata seorang kawan. Dan saya pun mengamini.
Hanya, eksklusifitas terakhir ini yang kemudian memunculkan masalah baru. (yang lama-gambar penggerebekan dr. Azahari-sebenernya juga disoal banyak orang, tapi menguap begitu saja. Mungkin karena takut dianggap ngiri karena kalah bersaing) Ada efek domino dari label eksklusif tayangan rekonstruksi Albar. Efek domino itu dimunculkan oleh wartawan Jawa Pos Farouk Arnaz.

Arnaz menyoal larangan meliput rekonstruksi Narkoba Albar, sementara Lativi dengan mudahnya bisa mendapat gambar dan tanpa rasa bersalah mempublikasikannya. Arnaz juga mempermasalahkan penghapusan sebuah gambar rekonstruksi di kamera hasil jepretannya.

“Ini tidak adil. Gambar yang saya dapatkan susah payah dihapus. Tapi, stasiun TV tersebut justru mendapatkan hak eksklusif. Ini diskriminatif. Kami sebagai wartawan mempunyai hak sama,” begitu kata Arnaz. (indopos).

Arnaz melaporkan kasus tersebut ke Divisi Propam Mabes Polri. Terlapor Kanit I Direktorat IV Bareskrim Polri Kombespol Sriyono akhirnya minta maaf. Tapi perkara belum selesai.
”Saya tetap akan lanjutkan. Ini bukan soal meminta maaf, lantas kasusnya selesai. Ada problem mendasar di Polri dalam membangun komunikasi setara dengan semua media,” kata Arnaz dalam sebuah pembicaraan sambil lalu dengan saya.

Saya sempat berdiskusi langsung dengan Arnaz soal kasus ini. Menurut dia, bukan penghapusan karya jurnalistiknya yang dipermasalahkannya, tetapi lebih pada sikap kepolisian yang tidak adil dalam memberi akses informasi kepada semua media.

Dan siapa lagi kalau bukan Karni Ilyas. ”Memang sudah dibuktikan. Tapi lihat saja bagaimana dia di SCTV, ANTV, dan sekarang di Lativi. Dia selalu mendapat perlakuan istimewa dari Polri (baca: Gorys Mere).”

Semua sudah mafhum, ada persaingan ketat dalam bisnis media. Semua TV, semua Koran, berlomba menjadi yang terdepan dan punya berita eksklusif. ”Tapi caranya harus fair dong. Polri tidak perlu ikut campur dalam persaingan bisnis media apalagi menfasilitasi salah satunya.” Sesal Arnaz.

Ini momentum untuk membuka perselingkuhan Media dengan Polri. ”Dulu banyak orang mengeluhkan perlakuan istimewa Polri terhadap Karni Ilyas. Ini momentum yang tepat untuk melawan. Saya tidak takut membuka masalah ini karena selama saya nge-pos di Polri tidak pernah menerima apapun dari kepolisian. Saya juga tidak takut tidak mendapat akses pemberitaan karena mempermasalahkan kasus ini,” Ucap Arnaz.

***

Barangkali betul yang dikatakan Arnaz. Kasus yang menimpa dirinya adalah momentum untuk membuka perlakuan tidak adil Polri terhadap Media (dan terhadap Rakyat). Sebagai Jurnalis Senior Karni layak diacungi jempol. Dia berhasil menyusup, membangun jaringan, membuka kran sumber-sumber berita eksklusif. Semua itu dibangunnya tidak dengan mudah. Dan hasil, informasi utama dari sumber utama. Tapi eksklusifitas itu tidak lantas menjadi hak dia seorang bukan?(*)

8 Tanggapan to “Karni Ilyas, Gorys Mere, dan Persaingan Media”

  1. evan Says:

    tessst…

  2. be samyono Says:

    kalao bikin link jangan gitu papa 🙂

    khan di atas kolom posting ada gambar rantai atau semacam itu blok aja tukisan misalkan “disini” nag abis itu klik rantai itu akan muncul kolom link. diisi. hasilnya tulisan “disini” akan berubah warna dan kalo di klik akan kenuju linknya…

    (sok tahu mode on kekeke)–> karena bisanya cuman ini.
    tapi dicoba deh

    sudah siapin nama buat adeknya evan?

  3. Bunga Says:

    Pak Karni sekarang di tvOne.
    siap-siap untuk menyaksikan ekslusivitas pemberitaan di tvOne.

    Salam,
    tvOne

  4. sillystupidlife Says:

    Iya… saya juga baca iklannya di Kompas. Kemarin malah senpet nonton bentar acara launching-nya… tapi kok di chanelnya Lativi sich?… Apa Lativinya berubah jadi tvOne???…

  5. eka fitriani Says:

    aku sring bgt nonton tv one,,,beritanya bagus dan terpercaya,,,
    aku mau dapat emailnya Pak Karni ilyas..untuk data riset skripsi aku..soalnya aku ambil tema tentang bang one…
    mohon banget y….
    terimakasih

  6. skeptikz Says:

    yahh, memang betul, eksklusifitas dalam berita, itu bukan hak milik Pak Karni semata. Tapi kembali lagi begini, sekarang nyatanya sudah jelas kalau butuh koneksi untuk di mudahkan. Kenapa tidak, rekan” journalist lainnya contoh dan mencari koneksi juga, sehingga mendapatkan berita” yang ekslusif juga. Toh, Pak Karni, itu juga mulainya dari nol!

    Tapi saya setuju kalau mesti ada perubahan dengan cara beroperasinya pihak” seperti Polri. Biar lebih adil dikit-lah!

    ngomong”, pentingnya koneksi dalam jurnalistik itu bukan di Indonesia saja lho, di Inggris dan America sekalipun, itu berlaku. Cuman di dandanin aja supaya tidak kelihatan. Mungkin Polri harus pintar” men-dandani ya? dunia ini kotor sobat! kalau melawan api harus dengan api yang lebih besar lagi.. nanti kalau sudah di posis kendali baru buat-lah perubahan.

  7. Reno Says:

    Sebaiknya tidak mengeluh seperti ini, tapi usaha, regenerasi, belajar dari pak Karni Ilyas, telpon beliau, minta diskusi, dan minta sharing networking dia, karna dia pun akan pensiun begitu juga, Gories Mere, Presiden SBY dll. jangan terus2an jadi bangsa yg maunya enak tanpa usaha. kehidupan nyata itu memang berat. kalau tidak mampu tidak usah hidup.

  8. mahmud Says:

    betul-betul……KI juga seprti anda yang membangun jaringan mulai dari nol….so belajarlah sama beliau, jangan tinggal menangisi diri sendiri karena ktidakberdayaan…oce?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: