”Ikro’!” (merokoklah!)
”Ma ana bi kori’.” (saya tidak punya korek)
”Ok. Ini saya punya korek. Silakan merokok sepuasnya.”
Tapi soalnya tidak selesai sampai di situ. Ketika anda punya sebatang rokok, kawan anda menyuguhkan korek, lantas anda menyulut rokok tersebut, anda masih membutuhkan sebuah asbak.
Asbak itu penting untuk mengurangi kekemprohan anda, menutupi habitus bangsa ini yang biasa membuang sampah serampangan. Bagi pecandu, rokok itu penting. Tapi bagi yang lain, ia sangat mengganggu, tidak sehat, dan dapat menyebabkan bau mulut. Rokok makin mengganggu jika anda tidak menyiapkan asbak, apapun lah namanya, untuk membuang latu dan puntung.
Seorang kawan jebolan pesantren melontarkan dalil serampangan, ”kullu syaiin asbakun.” segala sesuatu bisa menjadi asbak.

Asbak bisa dibikin dari apa saja. Batok kelapa, tanah liat, plastik. Bisa pula anda memanfaatkan gelas bekas ngopi atau bungkus rokok. Kalau tidak ada semua? Ya itu tadi,”kullu syaiin asbakun.” Anggap saja semua yang ada disekitar anda adalah asbak. Anda bisa membuang puntung rokok di manapun: trotoar, pojok ruangan, lantai bawah kursi, bahkan laci meja kantor.
Dalil ”kullu syaiin asbakun” itu jelas terlihat di sebuah ruangan yang biasa menjadi tempat diskusi. Asbak batok kelapa, gelas bekas ngopi, bungkus rokok kosong, dan botol fresh tea, seakan tak cukup menampung puluhan puntung rokok mereka. Dan laci meja yang seharusnya menjadi tempat menyimpan kertas kerja, hasil notulensi rapat, dan ATK, akhirnya menjadi tempat penampungan sampah-sampah dari mulut asbak yang tak berhenti menyemburkan asap.
Kenapa bisa seperti itu? Itulah kekuatan pikiran. Hahahaha. Sejumlah pakar motivasi sering menyampaikan betapa dahsyatnya kekuatan pikiran manusia. Batang tubuh manusia bergerak karena perintah otak. Pikiranlah yang menguasai tangan, kaki, dan mulut anda—entah kalau alat kelamin. Cara pandang anda terhadap dunia juga hasil olahan celebrum dan celebrelum.
Filsuf Yunani, Plato, begitu mengagungkan ide. Bagi dia, materi, sesuatu yang tampak oleh indrawi, hanyalah bayang-bayang semu dari dunia ide. Dunia fisik hanyalah bayang-bayang samar di dinding gua hasil pantulan dari sebuah ‘ide besar’ yang tak mungkin dipahami sepenuhnya oleh manusia. Dunia idea itu kekal, objektif, dan mempengaruhi pemikiran manusia. Benda fisik adalah serpihan-serpihan pengetahuan belaka.
Kembali ke asbak. Segala sesuatu dapat menjadi asbak jika pikiran anda menyebutnya demikian. Ini soal persepsi, yang menuntun tangan para perokok (rokiin) membuang puntung rokoknya ke laci meja yang lazimnya menjadi tempat menyimpan kertas kerja. Itu fenomena yang hampir sama ketika, di sebuah daerah terpencil, kita menemukan bekas kloset menjadi tempat penyimpanan beras atau air minum.
Embuh lah.(*)
Desember 8, 2008 pukul 7:33 pm |
seorang teman pernah bilang, “setiap lubang adalah asbak”. Maklum, semua asbak di ruangan sudah sala lempar keluar jendela. Huehhehehe
Desember 8, 2008 pukul 8:12 pm |
Saya pernah lihat asbak yang bisa dibawa kemana-mana alias mobile. Ukurannya mini dan bisa dicantolin di celana. Pengen punya juga, tapi gak tau belinya dimana
Btw, saya punya korek dan asbak, tapi gak punya rokoknya, bagi dong!
Desember 9, 2008 pukul 12:02 am |
keren, mas… keren…
Desember 9, 2008 pukul 4:34 am |
iki maksude opo yo?
*mlayu…*
Desember 9, 2008 pukul 6:13 am |
awakmu ki ngomong opo sih Yus? wewkeweke
*nyungsep*
Desember 9, 2008 pukul 8:10 am |
Selain dalil serampangan, tu terjemahan di paragraf awal jga ngaco sangat…
Desember 9, 2008 pukul 2:22 pm |
hehe hehe, sampeyan pasti yo ngasbak everywhere
Desember 10, 2008 pukul 6:20 am |
gelar Gus Yus SAH dipakai!
Desember 10, 2008 pukul 12:28 pm |
sebagei “rokiin” ana sepakat sama lambene sampeyan itu … hahahaaa hidup rokook!!!
Desember 10, 2008 pukul 12:48 pm |
Asbak itu adalah tanda. Penandanya adalah rokok.
(maksudnya apa ya???)
Desember 10, 2008 pukul 2:39 pm |
beh … lacinya parah… itu laci apa asbak omong2? kok gede banget kayak laci?
Desember 11, 2008 pukul 1:49 am |
Nunut ngomil2 :
akeh2e perokok iku kemproh, beberapa piring dan mangkok yang bahannya plastik di pantry kantor sering rusak karena dijadiin asbak, uuhhh dasar kemprohhhh
Desember 12, 2008 pukul 1:34 am |
ooo ikro’ yang ini beda to dengan iqro’????
Desember 12, 2008 pukul 1:36 am |
ooo ikro’ yang ini beda to dengan iqro’????
Desember 13, 2008 pukul 1:20 am |
ada dua macam rokiín…yang satu golongan bersihan..yang satu kayá’ yang nulis…golongan kemproh poll…, kopros…, nggilani…, njijik-i…
Desember 14, 2008 pukul 1:47 am |
wasyuuuuwww..asbak’e keren tenan..wakakakka
iyo,kowe kie ngemeng opo tho..????
Desember 14, 2008 pukul 9:20 am |
Afdholi kufi minal rokiin
Desember 15, 2008 pukul 12:49 pm |
Mana, nih, postingannya lagi???
Januari 7, 2009 pukul 12:07 pm |
saking gak onok nggon ae, sampe beras disimpan di bekas kakus weleh2…, gak difoto gan?
Januari 12, 2009 pukul 5:30 pm |
hubungan rokok dan asbak sama dengan kunam dengan kimpet
tanpa asbak merokok masih bisa dinikmati, sama dengan kunam , coli masih bisa dinikmati
hidup coli…!!!
Januari 17, 2009 pukul 6:32 am |
ATAS NAMA PENGALAMAN YA……
Januari 19, 2009 pukul 11:16 am |
mungkin dalil “kullu syai’in asbakun” terdengar sampai di tempat saya. Teman saya yang lagi tidur dengan ngowoh, (apa itu bahasa endonesah nya ngowoh) lhah kok dicemplungi latu, … ya itu tadi dalil nya.
Maret 11, 2009 pukul 2:57 pm |
merokoklah lalu berhentilah ..:)
Mei 12, 2009 pukul 7:24 am |
kullu syaiin asbakun…hahahaha