Bayangkan saya adalah orang yang sama sekali tidak mengerti politik. Merem politik. Saya orang blo’on yang sehari-hari tidak pernah baca koran, nonton tv, dan mengikuti geger politik di media konvensional. Kalaupun baca koran, paling-paling nyomot ‘Lampu Merah, kalau tidak majalah gosip. Nyetel tipi hanya pas jadwal infotainment dan sinetron tangis-tangisan, hantu-hantu seksi, atau jedag-jedug acara musik MTV.
Saya yang bodoh ini, yang tidak peduli dengan jungkir-balik politisi tak jelas di parlemen dan parpol tiba-tiba bertanya: coba jelaskan apa pentingnya politik dan partai politik buat saya? Anda tidak perlu ndakik-ndakik (terlalu tinggi) ngomong soal demokrasi, karena saya tak paham apa itu demokrasi. Anda juga ndak usah menceramahi saya tentang trias politica..hewan apa pula itu. Cukup kasih pemahaman singkat kenapa saya perlu berpolitik atau setidak mafhum atas keberadaan parpol. Titik.
Seorang kawan, politisi muda, ketua umum organisasi sayap kepemudaan salah satu parpol, memiliki pengalaman ditanya mahasiswi soal ini. Mahasiswi itu bukan aktivis kampus. Dia cantik, biasa berpakaian seksi, dengan make up khas mahasiswi kampus swasta bonafide, suka clubbing, dan segala aktivitas yang bagi sebagian orang dianggap ‘hedon’. ”coba kasih rasionalisasi, apa pentingnya saya mengikuti aktivitas anda di partai politik? padahal politisi itu katanya paling korup, suka berantem, dll,” begitu kira-kira.
Mendapat pertanyaan seperti itu dari mahasiswi non-aktivis tentu tidak elok menjawab dengan bejibun teori-teori politik. Kawan saya hanya menjawab bahwa partai politik itu ibarat toilet. Ya…toilet, kakus tempat ngising (beol), kencing, dan (kadang) area ‘ular muntah’.
Parpol = toilet. Karena sama dengan toilet, di mana-mana—di semua negara yang mengaku demokratis—yang namanya parpol itu dibutuhkan dan karenanya harus ada. Di hotel berbintang, bandara, rumah sakit, kantor, bahkan istana presiden pasti ada toiletnya.
Di rumah anda, wajib hukumnya ada kakus. Kalau tidak ada, anda pasti kebingungan membuang hajat. Mosok mau numpang di rumah tetangga.
Nah, karena dibutuhkan, sebenci-bencinya sama toilet, anda tetap butuh toh? Semuntab-muntabnya sama politisi dan parpol, institusi itu tetap harus ada. Tugas kita semua, termasuk anda-anda semua lah yang bertanggungjawab untuk menjaga agar toilet..eh parpol..itu tetap bersih, harum-rapi, dan nyaman untuk diberaki dan dikencingi. Kalau toiletnya (parpolnya) nyaman, anda bisa beol berjam-jam sambil baca koran, ngemil, dan kalau perlu dikasih tipi layar datar 29 inchi.
Analogi yang menarik, mungkin. Menurut anda?
April 3, 2008 pukul 2:02 pm
*mumet*
April 3, 2008 pukul 3:49 pm
ular muntah?
hahahahhahahahaha
April 4, 2008 pukul 12:32 am
asyikan toilet… gak berisik….
April 4, 2008 pukul 12:37 am
kalau toilet umum, harus bayar juga donk?
April 4, 2008 pukul 3:36 am
parpol = toilet, kalo masuk harus bayar
April 4, 2008 pukul 3:51 am
idem sama mas mikow
April 4, 2008 pukul 4:25 am
biar dibersihin se bersih2nya, podho ae berarti parpol iku tetep mambu taek … hehehe
April 4, 2008 pukul 4:43 am
Hmm… saya jadi ogah mendalami politik. Ujung-ujungnya saya pasti jadi tai…
April 4, 2008 pukul 6:11 am
orang jawa tengah bilang “bener ning ora pener”!
mungkin maksudnya toilet tapi bukan jenis closed duduk, jongkok . . .
tapi jenis ‘plung lap’! . . . bisa juga pelihara ikan lele dibawah . .
April 4, 2008 pukul 6:22 am
Toilet Persatuan Pembangunan, Toilet Golongan Karya, Toilet Demokrasi Indonesia Perjuangan…
wakakakakak
April 4, 2008 pukul 8:02 am
buat kaos gambar toilet yuk. ada yang mau beli gak kira2?
April 4, 2008 pukul 9:18 am
kalo beraknya di ladang-ladang? piye mas?! seperti kebiasaan orang desa masa lalu?! hehehehehe…
April 5, 2008 pukul 1:30 am
masuk+tutup hidup (kalo gada rokok)+buang+keluar+lupain yg terbuang+lega! Hm… analogi yg pas buat politik, sepakat!
April 5, 2008 pukul 3:40 am
takuuutttt ( alias ga ngerti)
April 6, 2008 pukul 3:12 am
analogi nya emang menarik kang..
April 7, 2008 pukul 3:17 am
ooo ngono tho…dadi nek anggota parpol iku opo? septictank?
April 7, 2008 pukul 7:41 am
waduh klo ada toilet kaya gitu bisa-bisa sewanya perjam mahal bos…
April 8, 2008 pukul 1:57 am
klo toilet umum, sp yg jaga ya??
April 17, 2008 pukul 12:58 pm
Parpol = toilet? Ntar dulu ya (mikir). Mmmm…, aku khawatir nanti malah toilet yg mbeolin kita. Hiii…..